Seorang anak balita bertanya pada ibunya:
‘’Ibu mengapa ayah kemarin memukulmu?'’

Sang ibu menatap anaknya sambil tersenyum:
‘’Tidak nak, ayah tidak memukul ibu.'’

Lalu, si ibu duduk termangu. Sudah tepatkah kebohongan yang dia buat? Tidakkah itu akan mengacaukan psikologi sang anak? Jawaban apa yang sebaiknya diberikan jika anaknya bertanya lagi? Bukankah Tuhan memberi ingatan yang sangat baik pada setiap anak?

Beberapa hari kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, mengapa ayah kemarin memukulmu? Jangan takut, nanti ayah aku sentil.'’

Sekali lagi si ibu duduk termenung dengan perasaan haru biru. Hatinya perih. Ternyata begitu dalam luka yang tertera di batin anaknya. Luka yang terjadi akibat kelalaian kedua orang tuanya.

Hampir seminggu kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, mengapa ayah kemarin memukul ibu?

Dengan hati tergetar, sang ibu memeluk anaknya. Dia hanya bisa berucap:
‘’Maafkan ibu.'’

Sang anak tersenyum, seakan tidak pernah menanyakan persoalan itu. Anak itu hanya menjawab:
‘’Tidak apa-apa ibu. Jangan sedih, nanti aku ikut sedih.'’

Ibu itu berharap, kejadian yang menimbulkan luka di batin anaknya bisa terhapus. Tapi harapan tinggal harapan. Dua hari kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, kenapa ayah kemarin memukul ibu?'’

Sang ibu tidak bisa berkata apa-apa. Sebegitu dalamkah luka di batin anaknya. Saat malam turun sempurna, dia pandangi anaknya yang tidur lelap. Air mata meleleh, hanya doa yang menggumpal dalam hatinya. Hanya tiga kata yang bisa dia ucapkan:
‘’Maafkan ibu nak.'’

NB: Pelajaran nih buat semua orang tua