Gumpalan awan sandikala bergerak, menyemburatkan warna merah lembayung. Jarum jam sudah mendekati pukul 18.00, beberapa teman mulai berdatangan. Duh…lama nian kami tidak bertemu. Banyak wajah baru dan super muda yang tidak kukenal.
Dug jesss… suara musik di sebuah kafe, bilangan Plaza Senayan, Jakarta, terasa memekakkan telinga. Sajian minuman berakohol lalu lalang. Biru, jingga, warna kristal, sungguh menggoda. Tapi toh aku berkata:
‘’Tolong satu minuman tidak berakohol. Minuman bersoda atau mungkin ice lemon tea.'’
Pramusaji itu memandang dengan sorot mata aneh. Beberapa detik berlalu tanpa kata, akhirnya dia mengangguk.
Beberapa teman mengikuti jejakku, memesan minuman tanpa alkohol. Sebagian meminta bir, dan lebih banyak lagi yang meraih minuman warna-warni campuran vodka.
Senja telah pergi berganti malam. Bulan dan bintang tak terlihat dalam selubung dinding dan atap. Kepekatan dalam balutan asap rokok, seakan menertawai diriku. Sejenak aku tercenung, kemudian ikut terbahak (dalam hati tentu). Aku menertawai diriku yang merasa berada di tempat yang salah, dan waktu yang salah.
Aku memandangi diriku yang datang masih dengan seragam kantor. Sementara itu, teman-temanku dan tamu kafe lain, datang dengan dandanan super modis. Siapa yang tidak terpesona dengan kilapan bahu terbuka? Siapa yang tak terpesona dengan belahan dada super rendah? Siapa pula yang tidak terkesima, memandang paha mulus, hanya dibalut kain minim bertumpuk?
dug jesss…dug jesss…dug jesss… dug jesss….
Musik masih terus berdentam, dan aku tak perduli lagi dengan penampilan. Kakiku bergoyang, bahuku bergoyang, dan akhirnya tangan serta tubuhku ikut bergerak. Ikuti irama!
Aku mulai bisa menikmati, meski tidak sepenuhnya merasa nyaman. Ini memang bukan duniaku, tapi bukan berarti aku tak bisa menikmati.
Haaa, ayo jack, goyang ikuti irama!

