HarikuSeptember 26, 2005 2:56 pm

Gumpalan awan sandikala bergerak, menyemburatkan warna merah lembayung. Jarum jam sudah mendekati pukul 18.00, beberapa teman mulai berdatangan. Duh…lama nian kami tidak bertemu. Banyak wajah baru dan super muda yang tidak kukenal.

Dug jesss… suara musik di sebuah kafe, bilangan Plaza Senayan, Jakarta, terasa memekakkan telinga. Sajian minuman berakohol lalu lalang. Biru, jingga, warna kristal, sungguh menggoda. Tapi toh aku berkata:
‘’Tolong satu minuman tidak berakohol. Minuman bersoda atau mungkin ice lemon tea.'’

Pramusaji itu memandang dengan sorot mata aneh. Beberapa detik berlalu tanpa kata, akhirnya dia mengangguk.
Beberapa teman mengikuti jejakku, memesan minuman tanpa alkohol. Sebagian meminta bir, dan lebih banyak lagi yang meraih minuman warna-warni campuran vodka.

Senja telah pergi berganti malam. Bulan dan bintang tak terlihat dalam selubung dinding dan atap. Kepekatan dalam balutan asap rokok, seakan menertawai diriku. Sejenak aku tercenung, kemudian ikut terbahak (dalam hati tentu). Aku menertawai diriku yang merasa berada di tempat yang salah, dan waktu yang salah.

Aku memandangi diriku yang datang masih dengan seragam kantor. Sementara itu, teman-temanku dan tamu kafe lain, datang dengan dandanan super modis. Siapa yang tidak terpesona dengan kilapan bahu terbuka? Siapa yang tak terpesona dengan belahan dada super rendah? Siapa pula yang tidak terkesima, memandang paha mulus, hanya dibalut kain minim bertumpuk?

dug jesss…dug jesss…dug jesss… dug jesss….
Musik masih terus berdentam, dan aku tak perduli lagi dengan penampilan. Kakiku bergoyang, bahuku bergoyang, dan akhirnya tangan serta tubuhku ikut bergerak. Ikuti irama!
Aku mulai bisa menikmati, meski tidak sepenuhnya merasa nyaman. Ini memang bukan duniaku, tapi bukan berarti aku tak bisa menikmati.

Haaa, ayo jack, goyang ikuti irama!

Hariku 1:26 pm

Seorang anak laki-laki kecil bertanya pada ibunya:
‘’Mengapa engkau menangis?'’

‘’Karena aku seorang wanita,'’ kata sang ibu kepadanya.
Sambil memeluk, sang ibu berkata lagi, ‘’engkau tidak akan pernah mengerti.'’

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya:
‘’Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?'’

‘’Semua perempuan sering menangis tanpa alasan,'’ hanya itu yang bisa dijawab sang ayah.

Anak laki-laki kecil itu pun tumbuh menjadi orang dewasa dan tetap ingin tahu, mengapa perempuan menangis.
Akhirnya dia menghubungi Tuhan dan bertanya:
“Tuhan, mengapa perempuan begitu mudah menangis?'’

Tuhan berkata:
“Ketika aku menciptakan perempuan, dia diharuskan menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahu cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.
Aku memberikannya kekuatan dari dalam supaya dapat melahirkan anak, dan menerima penolakkan yang seringkali datang dari anak-anaknya. Aku memberinya kekerasan untuk membuat dia tetap tegar, ketika orang-orang lain menyerah. Aku juga memberinya kekuatan untuk mengurus keluarga, lengkap dengan penderitaan tanpa mengeluh.
Aku memberinya kepekaan untuk menyintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan saat anaknya bertindak sangat menyakiti hatinya. Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya saat mengalami kegagalan, dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.
Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik tidak akan pernah menyakiti hati istrinya. Tetapi kadang menguji kekuatan dan ketetapan hatinya, untuk berada di sisi suami tanpa ragu.
Dan akhirnya, aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya, dan bisa digunakan kapan pun dibutuhkan.'’

‘’Kau tahu:
Kecantikan seorang perempuan bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana cara dia menata rambutnya. Kecantikan seorang perempuan harus bisa dilihat dari matanya, karena itulah hatinya, tempat dimana cinta itu berada.'’

Sumber: dari e-mail yang banyak beredar
Komen: Terserah saja dari sudut pandang mana mau dilihat. Cengeng? penyanjungan? Tidak realistis? atau mau apa hayoo!

Hariku 8:56 am

Seorang anak balita bertanya pada ibunya:
‘’Ibu mengapa ayah kemarin memukulmu?'’

Sang ibu menatap anaknya sambil tersenyum:
‘’Tidak nak, ayah tidak memukul ibu.'’

Lalu, si ibu duduk termangu. Sudah tepatkah kebohongan yang dia buat? Tidakkah itu akan mengacaukan psikologi sang anak? Jawaban apa yang sebaiknya diberikan jika anaknya bertanya lagi? Bukankah Tuhan memberi ingatan yang sangat baik pada setiap anak?

Beberapa hari kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, mengapa ayah kemarin memukulmu? Jangan takut, nanti ayah aku sentil.'’

Sekali lagi si ibu duduk termenung dengan perasaan haru biru. Hatinya perih. Ternyata begitu dalam luka yang tertera di batin anaknya. Luka yang terjadi akibat kelalaian kedua orang tuanya.

Hampir seminggu kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, mengapa ayah kemarin memukul ibu?

Dengan hati tergetar, sang ibu memeluk anaknya. Dia hanya bisa berucap:
‘’Maafkan ibu.'’

Sang anak tersenyum, seakan tidak pernah menanyakan persoalan itu. Anak itu hanya menjawab:
‘’Tidak apa-apa ibu. Jangan sedih, nanti aku ikut sedih.'’

Ibu itu berharap, kejadian yang menimbulkan luka di batin anaknya bisa terhapus. Tapi harapan tinggal harapan. Dua hari kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, kenapa ayah kemarin memukul ibu?'’

Sang ibu tidak bisa berkata apa-apa. Sebegitu dalamkah luka di batin anaknya. Saat malam turun sempurna, dia pandangi anaknya yang tidur lelap. Air mata meleleh, hanya doa yang menggumpal dalam hatinya. Hanya tiga kata yang bisa dia ucapkan:
‘’Maafkan ibu nak.'’

NB: Pelajaran nih buat semua orang tua