Pernah gak suatu hari kamu datang ke sebuah acara dan merasa salah tempat? Pernah gak, suatu hari kamu berada di keramaian tapi tetap merasa kosong dan sendiri? Kalau pernah, yap… berbahagialah karena itu berarti kamu manusia normal.
Para psikolog bilang, perasaan seperti itu normal-normal saja. Artinya bisa menghinggapi setiap manusia. Masalahnya, terkadang ada orang yang bisa mengelola rasa sepi menjadi sesuatu hal positif, tapi ada juga yang tidak bisa. Saya pikir, itulah sebabnya kian banyak orang menderita depresi.
Sebetulnya, kita bisa belajar banyak dari orang-orang terkenal yang berhasil mengelola rasa sepi menjadi hal positif. Di antaranya Ludwid van Bethoven dan Raja Dongeng HC Anderson. Begitulah kira-kira, seperti yang pernah saya baca.
Begini kisahnya:
Di suatu musim dingin 1800-an, Bethoven (1770-1827) duduk termenung dengan tatapan kosong. Saat itu, dia merasakan sunyi dan dingin yang sangat mencekam. Bethoven yang belum dikenal sebagai komponis besar sedang frustasi karena pendengarannya mulai terganggu. Lelaki jenius yang tinggal di Bonn ini, lebih senang duduk sendirian di dalam kamar. Ia menarik diri dari kehidupan ramai. Sepi dan dingin sudah jadi bagian hidupnya.
Namun, dalam tekanan suasana demikian, Bethoven tetap mampu menelurkan karya-karya dasyat. Dia mencoba berdamai dengan rasa sepi dan diri sendiri. Dia berhasil mengalihkan rasa frustasi dan sepinya menjadi suatu karya luar biasa yang terus dikenang hingga sekarang.
Di belahan berbeda dengan waktu berbeda pula, kesepian luar biasa juga menimpa Raja Dongeng HC Anderson. Penulis dongeng anak-anak ini selalu dirundung sepi hampir disepanjang hidupnya.
Anderson berwajah buruk, dan itu membuat dia minder. Ia lebih senang menghabiskan waktu di rumah, karena merasa banyak orang menertawakan wajahnya.
Tapi justru karena rasa sepi yang terus bergelayut, Anderson banyak menghasilkan cerita anak-anak. Konon, salah satu karyanya berjudul Anak Itik Buruk Rupa, merupakan cermin dari hidupnya yang sepi.
Bethoven dan Anderson contoh dua orang terkenal yang mampu mengelola rasa sepi menjadi hal-hal positif. Nah, bisakah kita mengelola rasa sepi menjadi sesuatu yang positif seperti mereka? Itu sih tergantung kemauan. Seperti dalam buku Sang Alkemis, manusia dituntut mencari legenda hidup masing-masing. Kenali pertandanya, dan coba raih apa yang menjadi impian kita.
Sulit? so pasti! Gak ada sesuatu yang gampang di dunia ini. Apalagi mengelola rasa sepi. Itu berarti kita harus bisa mengalahkan diri sendiri. Betul tidak?


betul… sukurlah ada orang mau ungkapkan pemikiranya
Comment by ayala — March 6, 2008 @ 10:31 am