Suatu hari, saat malam mencapai pertengahan… jalanan di Jakarta terlihat sepi. beberapa karibku berkumpul di sebuah kafe, hanya sekedar bertemu dan mengobrol. Saat itu, aku dan satu temanku, duduk berdekatan, meski dalam sofa berbeda.
Dalam temaram lampu, kulihat pipinya mulai memerah dan tatap matanya begitu menunjukkan gairah. Cantik dalam balutan blus putih, dengan rambut panjang terurai. Dia raih gelas bir kedua yang isinya tinggal seperempat. Dia habiskan dalam beberapakali teguk, dan dia minta segelas lagi.
Aku duduk diam memandanginya. Kupesan botol kedua bintang zero. Entah karena sikapnya yang memang tidak pernah memandang berat masalah, atau karena pengaruh bir, penggalan kisah hidupnya mengalir dengan lancar.
‘’Aku jatuh cinta lagi,’’ tuturnya dengan nada berbisik.
‘’Kali ini rasanya luar biasa. Kami bisa begitu bergairah.’’
Aku tidak tahu harus berbicara apa. Ini kisah petualangan dia yang kesekian kali.
‘’Aduh, rasanya aku mulai mabuk,’’ bisiknya lagi, tanpa niat mengurungkan tegukkan bir di gelas ketiga.
‘’Apa pendapatmu?’’ kali ini dia berkata dengan nada tanya.
‘’Bagaimana perasaanmu?’’ aku balik bertanya, karena tidak tahu harus berkomentar apa.
‘’Kadang ada rasa takut, tapi kalah dengan perasaan senang yang aku rasakan. Ini hanya permainan, bukan kenyataan. Jadi, aku putuskan tidak perduli dan tetap berlanjut.’’
Aku diam, dan seperti orang Virgo pada umumnya, menjadi sok pintar. Mencoba menganalisa apa yang sedang berkecamuk di benak temanku itu. Jadi, aku hanya memandang dan tersenyum.
‘’Sekarang, apa pendapatmu?’’ tanya temanku dengan nada mendesak.
‘’Aku senang kamu bahagia. Aku kagum dan iri karena kamu berani mengambil keputusan di luar kebiasaan umum untuk meraih kebahagiaan menurut versimu ,’’ kataku.
‘’Hanya itu?,’’ tanyanya lagi.
‘’Di luar itu, aku tidak bisa berkomentar. Aku tidak berhak berkomentar, apalagi menilai.’’
‘’Ah, kamu sok bijaksana,’’ katanya dengan nada jengkel.
‘’Mungkin tepatnya mencoba bijaksana,’’ jawabku.
‘’Bulan ini, kamu orang kelima yang menceritakan kisah ‘terlarang’ padaku.’’
Pembicaraan masih panjang, dan kami tertawa berdua. Sesekali, tawa kami membaur dengan beberapa karib lain. Sebuah malam yang indah, saat kamu menyadari punya teman untuk sekedar berbicara dan berbagi.
Saat kutengok jendela, jalanan Jakarta kian sepi. Malam mulai terusir, pembagian waktu mulai memasuki pagi. Kami akhirnya bubar, tentu dengan gelayut ikiran berbeda di benak masing-masing.

