August 30, 2005

‘’Kau harus siap menerima risiko, merasakan kesedihan yang sangat ketika kau sudah memutuskan dirimu untuk dijinakkan orang lain…’’

Kata-kata itu diucapkan rubah pada pangeran kecil dari planet lain dalam buku berjudul Pangeran Kecil karya Antoine de Saint-Exupery. Rangkaian kalimat yang sebenarnya sangat sederhana tapi sarat makna. Sebagai manusia, kita sering mengalami perasaan seperti itu dalam kehidupan sehari-hari.

Aku memunyai teman yang menganggap anak kecil sebagai setan berwajah malaikat. Lama setelah pembicaraan itu, aku baru tahu, dia sengaja menutup hatinya karena tidak mau dijinakkan. ‘’Aku tidak mau kecewa saat harus berpisah,’’ begitu katanya.

Aku sendiri sekarang enggan memiliki hewan peliharaan. Aku enggan menyerahkan hatiku untuk dijinakkan. Aku tidak mau lagi meratapi kepergian Hero, Nero, Lesi, Lisa, Snowi, atau siapa pun.

Aku punya lagi seorang teman yang mengaku sangat rasional. Namun toh dia tetap berhasil dijinakkan atas nama asmara. Meski nasib tidak membuat mereka bersatu, agaknya asmara lama belum padam. Tapi temanku itu dengan yakin mengatakan., aku sudah mengakhiri semuanya tanpa rasa sedih. Itu hanya persoalan menyetel pikiran dan perasaan. Sesederhana itu? Aku kok enggak yakin. Masa sih dia begitu tidak berperasaan?

Makna jinak-menjinakkan dalam cerita Pangeran Kecil itu menurutku memang sangat dalam. Gak cuma tentang asmara, tapi juga menyangkut persaudaraan, persahabatan, orang tua ke anak, anak ke orang tua, dan masih banyak lagi.

Masalahnya, terkadang kita tidak mau dijinakkan tapi tahu-tahu tanpa sadar sudah dijinakkan.
Terkadang kita ingin dijinakkan tapi orang atau apa pun apa pun yang kita maksud tidak mau menjinakkan.
Nah, kalau sudah begitu’kan repot. Belum lagi kalau ada proses jinak-menjinak yang tidak pada tempatnya. Yaaah, akhir kata, perkataan rubah itu lagi yang benar.

‘’Kau harus siap menerima risiko, merasakan kesedihan yang sangat ketika kau sudah memutuskan dirimu untuk dijinakkan orang lain…’’

Dalam cerita itu, rubah memohon agar Pangeran Kecil mau menjinakkan dia. Permintaan itu akhirnya dikabulkan. Tapi saat Pangeran Kecil akan pergi, dia menangis tersedu-sedu.
‘’oh!’’ isak si rubah. ‘’Aku akan menangis.’’
‘’Ini salahmu sendiri,’’ kata Pangeran Kecil. ‘’Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Tapi kau sendiri yang memintaku untuk menjinakkanmu.’’
‘’Aku tahu,’’ jawab si rubah.
‘’Dan kau tetap akan menangis!’’ kata Pangeran Kecil.
‘’Aku tahu,’’ jawab si rubah lagi.
‘’Dan kau tidak memperoleh apa-apa dari semua yang terjadi ini!’’
‘’Tidak, aku sudah memperoleh sesuatu darinya,’’ bantah si rubah, ‘’yaitu kenangan atas warna ladang jagung (yang mirip warna rambutmu).’’

Kemudian rubah menyuruh Pangeran Kecil melakukan sesuatu, sebelum mengungkapkan sebuah rahasia lagi:
’Kau dapat melihat segala sesuatu dengan begitu jelas hanya melalui hatimu. Karena memang hal-hal inti tidak terlihat di depan mata. Kau tidak boleh lupa bahwa kau harus selalu bertanggungjawab atas apa yang kau taklukkan.’’

TAMATULKALAM