Temanku yang ceria, kini tidak bisa lagi bersikap hitam dan putih. Sebelumnya dia begitu bersikukuh, dalam kehidupan ini manusia seharusnya bisa menempatkan diri di zona hitam atau putih. Bagi dia, tidak ada warna abu-abu.
Tapi sepulang dari sebuah perjalanan, semuanya berubah. Matanya berbinar, gerak tubuhnya gemulai, kecantikannya memancar keluar. Dan dia pun bercerita, bla…. bla…. bla…..
Amboi dia jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Dia memasuki wilayah abu-abu. Jadi, aku ngomong ke dia, ‘’selamat datang di zona abu-abu.’’
Sambil senyum-senyum kecil nan bahagia, dia menjawab, ‘’aku bukan di zona abu-abu, tapi warna-warni.’’
Alamak, indah nian. Jadi aku bilang, ‘’oke, kamu ada di zona warna-warni dengan warna dasar abu-abu.’’
Temanku tidak menjawab, hanya menebar senyum ke kanan dan ke kiri. Matanya penuh bintang, berbinar gemerlap, dan senyumnya itu semanis madu. Kulitnya yang kini berwarna hitam mengkilat — mungkin karena baru terpanggang matahari dan kemudian diimbangi perawatan — kian bersinar dan melembut.
Oke deh teman, aku melihat bintang-bintang di matamu. Tapi hati-hati dengan zona abu-abu yang kamu masuki!
Huaaaa!!!! Bu Ani bener lagi euy!

