HarikuSeptember 26, 2005 2:56 pm

Gumpalan awan sandikala bergerak, menyemburatkan warna merah lembayung. Jarum jam sudah mendekati pukul 18.00, beberapa teman mulai berdatangan. Duh…lama nian kami tidak bertemu. Banyak wajah baru dan super muda yang tidak kukenal.

Dug jesss… suara musik di sebuah kafe, bilangan Plaza Senayan, Jakarta, terasa memekakkan telinga. Sajian minuman berakohol lalu lalang. Biru, jingga, warna kristal, sungguh menggoda. Tapi toh aku berkata:
‘’Tolong satu minuman tidak berakohol. Minuman bersoda atau mungkin ice lemon tea.'’

Pramusaji itu memandang dengan sorot mata aneh. Beberapa detik berlalu tanpa kata, akhirnya dia mengangguk.
Beberapa teman mengikuti jejakku, memesan minuman tanpa alkohol. Sebagian meminta bir, dan lebih banyak lagi yang meraih minuman warna-warni campuran vodka.

Senja telah pergi berganti malam. Bulan dan bintang tak terlihat dalam selubung dinding dan atap. Kepekatan dalam balutan asap rokok, seakan menertawai diriku. Sejenak aku tercenung, kemudian ikut terbahak (dalam hati tentu). Aku menertawai diriku yang merasa berada di tempat yang salah, dan waktu yang salah.

Aku memandangi diriku yang datang masih dengan seragam kantor. Sementara itu, teman-temanku dan tamu kafe lain, datang dengan dandanan super modis. Siapa yang tidak terpesona dengan kilapan bahu terbuka? Siapa yang tak terpesona dengan belahan dada super rendah? Siapa pula yang tidak terkesima, memandang paha mulus, hanya dibalut kain minim bertumpuk?

dug jesss…dug jesss…dug jesss… dug jesss….
Musik masih terus berdentam, dan aku tak perduli lagi dengan penampilan. Kakiku bergoyang, bahuku bergoyang, dan akhirnya tangan serta tubuhku ikut bergerak. Ikuti irama!
Aku mulai bisa menikmati, meski tidak sepenuhnya merasa nyaman. Ini memang bukan duniaku, tapi bukan berarti aku tak bisa menikmati.

Haaa, ayo jack, goyang ikuti irama!

Hariku 1:26 pm

Seorang anak laki-laki kecil bertanya pada ibunya:
‘’Mengapa engkau menangis?'’

‘’Karena aku seorang wanita,'’ kata sang ibu kepadanya.
Sambil memeluk, sang ibu berkata lagi, ‘’engkau tidak akan pernah mengerti.'’

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya:
‘’Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?'’

‘’Semua perempuan sering menangis tanpa alasan,'’ hanya itu yang bisa dijawab sang ayah.

Anak laki-laki kecil itu pun tumbuh menjadi orang dewasa dan tetap ingin tahu, mengapa perempuan menangis.
Akhirnya dia menghubungi Tuhan dan bertanya:
“Tuhan, mengapa perempuan begitu mudah menangis?'’

Tuhan berkata:
“Ketika aku menciptakan perempuan, dia diharuskan menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahu cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.
Aku memberikannya kekuatan dari dalam supaya dapat melahirkan anak, dan menerima penolakkan yang seringkali datang dari anak-anaknya. Aku memberinya kekerasan untuk membuat dia tetap tegar, ketika orang-orang lain menyerah. Aku juga memberinya kekuatan untuk mengurus keluarga, lengkap dengan penderitaan tanpa mengeluh.
Aku memberinya kepekaan untuk menyintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan saat anaknya bertindak sangat menyakiti hatinya. Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya saat mengalami kegagalan, dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.
Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik tidak akan pernah menyakiti hati istrinya. Tetapi kadang menguji kekuatan dan ketetapan hatinya, untuk berada di sisi suami tanpa ragu.
Dan akhirnya, aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya, dan bisa digunakan kapan pun dibutuhkan.'’

‘’Kau tahu:
Kecantikan seorang perempuan bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana cara dia menata rambutnya. Kecantikan seorang perempuan harus bisa dilihat dari matanya, karena itulah hatinya, tempat dimana cinta itu berada.'’

Sumber: dari e-mail yang banyak beredar
Komen: Terserah saja dari sudut pandang mana mau dilihat. Cengeng? penyanjungan? Tidak realistis? atau mau apa hayoo!

Hariku 8:56 am

Seorang anak balita bertanya pada ibunya:
‘’Ibu mengapa ayah kemarin memukulmu?'’

Sang ibu menatap anaknya sambil tersenyum:
‘’Tidak nak, ayah tidak memukul ibu.'’

Lalu, si ibu duduk termangu. Sudah tepatkah kebohongan yang dia buat? Tidakkah itu akan mengacaukan psikologi sang anak? Jawaban apa yang sebaiknya diberikan jika anaknya bertanya lagi? Bukankah Tuhan memberi ingatan yang sangat baik pada setiap anak?

Beberapa hari kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, mengapa ayah kemarin memukulmu? Jangan takut, nanti ayah aku sentil.'’

Sekali lagi si ibu duduk termenung dengan perasaan haru biru. Hatinya perih. Ternyata begitu dalam luka yang tertera di batin anaknya. Luka yang terjadi akibat kelalaian kedua orang tuanya.

Hampir seminggu kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, mengapa ayah kemarin memukul ibu?

Dengan hati tergetar, sang ibu memeluk anaknya. Dia hanya bisa berucap:
‘’Maafkan ibu.'’

Sang anak tersenyum, seakan tidak pernah menanyakan persoalan itu. Anak itu hanya menjawab:
‘’Tidak apa-apa ibu. Jangan sedih, nanti aku ikut sedih.'’

Ibu itu berharap, kejadian yang menimbulkan luka di batin anaknya bisa terhapus. Tapi harapan tinggal harapan. Dua hari kemudian, sang anak bertanya lagi:
‘’Ibu, kenapa ayah kemarin memukul ibu?'’

Sang ibu tidak bisa berkata apa-apa. Sebegitu dalamkah luka di batin anaknya. Saat malam turun sempurna, dia pandangi anaknya yang tidur lelap. Air mata meleleh, hanya doa yang menggumpal dalam hatinya. Hanya tiga kata yang bisa dia ucapkan:
‘’Maafkan ibu nak.'’

NB: Pelajaran nih buat semua orang tua

HarikuSeptember 24, 2005 7:03 pm

Pernah gak suatu hari kamu datang ke sebuah acara dan merasa salah tempat? Pernah gak, suatu hari kamu berada di keramaian tapi tetap merasa kosong dan sendiri? Kalau pernah, yap… berbahagialah karena itu berarti kamu manusia normal.

Para psikolog bilang, perasaan seperti itu normal-normal saja. Artinya bisa menghinggapi setiap manusia. Masalahnya, terkadang ada orang yang bisa mengelola rasa sepi menjadi sesuatu hal positif, tapi ada juga yang tidak bisa. Saya pikir, itulah sebabnya kian banyak orang menderita depresi.

Sebetulnya, kita bisa belajar banyak dari orang-orang terkenal yang berhasil mengelola rasa sepi menjadi hal positif. Di antaranya Ludwid van Bethoven dan Raja Dongeng HC Anderson. Begitulah kira-kira, seperti yang pernah saya baca.

Begini kisahnya:
Di suatu musim dingin 1800-an, Bethoven (1770-1827) duduk termenung dengan tatapan kosong. Saat itu, dia merasakan sunyi dan dingin yang sangat mencekam. Bethoven yang belum dikenal sebagai komponis besar sedang frustasi karena pendengarannya mulai terganggu. Lelaki jenius yang tinggal di Bonn ini, lebih senang duduk sendirian di dalam kamar. Ia menarik diri dari kehidupan ramai. Sepi dan dingin sudah jadi bagian hidupnya.
Namun, dalam tekanan suasana demikian, Bethoven tetap mampu menelurkan karya-karya dasyat. Dia mencoba berdamai dengan rasa sepi dan diri sendiri. Dia berhasil mengalihkan rasa frustasi dan sepinya menjadi suatu karya luar biasa yang terus dikenang hingga sekarang.

Di belahan berbeda dengan waktu berbeda pula, kesepian luar biasa juga menimpa Raja Dongeng HC Anderson. Penulis dongeng anak-anak ini selalu dirundung sepi hampir disepanjang hidupnya.
Anderson berwajah buruk, dan itu membuat dia minder. Ia lebih senang menghabiskan waktu di rumah, karena merasa banyak orang menertawakan wajahnya.
Tapi justru karena rasa sepi yang terus bergelayut, Anderson banyak menghasilkan cerita anak-anak. Konon, salah satu karyanya berjudul Anak Itik Buruk Rupa, merupakan cermin dari hidupnya yang sepi.

Bethoven dan Anderson contoh dua orang terkenal yang mampu mengelola rasa sepi menjadi hal-hal positif. Nah, bisakah kita mengelola rasa sepi menjadi sesuatu yang positif seperti mereka? Itu sih tergantung kemauan. Seperti dalam buku Sang Alkemis, manusia dituntut mencari legenda hidup masing-masing. Kenali pertandanya, dan coba raih apa yang menjadi impian kita.

Sulit? so pasti! Gak ada sesuatu yang gampang di dunia ini. Apalagi mengelola rasa sepi. Itu berarti kita harus bisa mengalahkan diri sendiri. Betul tidak?

Hariku 2:55 pm

Iklan…Iklan…Iklan…

Dijual:
1. Coklat cadbury kardusan Rp25 ribu di toko Rp28 ribu
2. Coklat cadbury kaleng Rp 30 ribu di toko Rp40 ribu
3. Kemiri Rp3000/kg minimal pembelian 50 kg
4. Asem Rp3.000/kg minimal pembelian 50 kg

Iklan…Iklan…Iklan…
Dari Makelar Kodok

Hariku 11:13 am

Tidur terus sepanjang hari, baru ke kantor sore.
Diselingi baca buku Sang Alkemis

Siapa yang tidak tahu, kalau lari dari masalah itu enggak baik?
Tapi itu yang sering gw lakuin duluuu banget
Sekarang? sudah gak bisa lagi
Semakin kita dewasa, semakin besar tanggung jawab kita
semakin besar tanggungjawab kita, semakin susah kita lari

Kalau dulu gw mengalami hal seperti sekarang,
pasti sudah lari.
Sekarang aja keinginan buat itu besar banget
Tapi apa daya tangan tak sampai
Ya sudah, gw coba jalani aja.
Masak sih gw gak bisa ngelewatin?

HarikuSeptember 23, 2005 10:00 am

Gw belakangan banyak tertular energi negatif neh..he he he
Tapi gak papa sih, jadi tahu banyak.
Orang pada ngomong patah hati, jatuh cinta, patah hati lagi…bla..bla..
weleeh, weleeh!
Pokoknya banyak kisah terlarang.
Pelajaran buat gw
Huaaatiii huatiii!

Hari ini dapat SMS dari Mia
‘’Tinza SMS disuruh baca Kompas halaman 53 dan 54,'’ gitu bunyinya.
‘’Tumben,'’ pikir gw.
Ternyata di halaman itu ada foto Baltoni sama istri dan anaknya.
Bukan kisah gembira, tapi kisah sedih
Anaknya Toni yang kecil kena penyakit Kawasaki
Tapi kayaknya sih sudah gak apa-apa!
Moga-moga aja. Nanti gw cari kontaknya.

Mulai nih, roda reuni putar lagi
Beberapa temen SMP bermunculan.
Baltoni misalnya, rumahnya ternyata di Puri Indah.
Wah dunia sempit bangeet!

Sekarang gw masih kehilangan
jejak temen-temen di SMA 5 Sumur batu
Pada kemana hoooi!

HarikuSeptember 20, 2005 1:17 pm

Hidup adalah senjata dengan peluru bunga. Bisa dimainkan untuk kehidupan, kebahagiaan, kesengsaraan, bahkan kematian.

Kukira bisa kusandarkan sisa hidupku di bahumu
kukira bisa kutitipkan gelisahku di dadamu
bertahun-tahun harapan itu membuncah,
nur najam membuatku melewati hari demi hari
bukankah ada kata, cinta sudah cukup untuk cinta?

Tapi kukatakan padamu kawan,
waspadai khayalanmu!
waspadai impianmu!

Dalam hidupku,
kesedihan selalu datang terlambat
saat hati direjam,
air mata sesungguhnya
menetes pada hari ketiga
kepedihan pun
seakan ikut bermain
mengintip ke dalam
sebelum akhirnya datang
dengan begituuu lambaat

Belakangan,
aku asyik bermain dalam pikiran
hai..hai..hidup hanya sekali
seharusnya kau bisa menikmati

maka….
aku mulai membangun kotak
kujalani hidupku dengan
kekuatan tak terduga
di sisi lain
aku bertekad
akan membangun kotak-kotak lain
bergantian!

so, harusnya aku bisa mengatakan
Persetan!
sebab hidup adalah senjata dengan peluru bunga
bisa dimainkan untuk kehidupan, kebahagiaan,
kesengsaraan, bahkan kematian.
jadi, sekali lagi aku akan katakan
Persetan!

HarikuSeptember 15, 2005 10:28 am

Suatu hari, saat malam mencapai pertengahan… jalanan di Jakarta terlihat sepi. beberapa karibku berkumpul di sebuah kafe, hanya sekedar bertemu dan mengobrol. Saat itu, aku dan satu temanku, duduk berdekatan, meski dalam sofa berbeda.
Dalam temaram lampu, kulihat pipinya mulai memerah dan tatap matanya begitu menunjukkan gairah. Cantik dalam balutan blus putih, dengan rambut panjang terurai. Dia raih gelas bir kedua yang isinya tinggal seperempat. Dia habiskan dalam beberapakali teguk, dan dia minta segelas lagi.

Aku duduk diam memandanginya. Kupesan botol kedua bintang zero. Entah karena sikapnya yang memang tidak pernah memandang berat masalah, atau karena pengaruh bir, penggalan kisah hidupnya mengalir dengan lancar.

‘’Aku jatuh cinta lagi,’’ tuturnya dengan nada berbisik.

‘’Kali ini rasanya luar biasa. Kami bisa begitu bergairah.’’
Aku tidak tahu harus berbicara apa. Ini kisah petualangan dia yang kesekian kali.

‘’Aduh, rasanya aku mulai mabuk,’’ bisiknya lagi, tanpa niat mengurungkan tegukkan bir di gelas ketiga.

‘’Apa pendapatmu?’’ kali ini dia berkata dengan nada tanya.

‘’Bagaimana perasaanmu?’’ aku balik bertanya, karena tidak tahu harus berkomentar apa.

‘’Kadang ada rasa takut, tapi kalah dengan perasaan senang yang aku rasakan. Ini hanya permainan, bukan kenyataan. Jadi, aku putuskan tidak perduli dan tetap berlanjut.’’

Aku diam, dan seperti orang Virgo pada umumnya, menjadi sok pintar. Mencoba menganalisa apa yang sedang berkecamuk di benak temanku itu. Jadi, aku hanya memandang dan tersenyum.

‘’Sekarang, apa pendapatmu?’’ tanya temanku dengan nada mendesak.

‘’Aku senang kamu bahagia. Aku kagum dan iri karena kamu berani mengambil keputusan di luar kebiasaan umum untuk meraih kebahagiaan menurut versimu ,’’ kataku.

‘’Hanya itu?,’’ tanyanya lagi.

’Di luar itu, aku tidak bisa berkomentar. Aku tidak berhak berkomentar, apalagi menilai.’’

‘’Ah, kamu sok bijaksana,’’
katanya dengan nada jengkel.

‘’Mungkin tepatnya mencoba bijaksana,’’ jawabku.
‘’Bulan ini, kamu orang kelima yang menceritakan kisah ‘terlarang’ padaku.’’

Pembicaraan masih panjang, dan kami tertawa berdua. Sesekali, tawa kami membaur dengan beberapa karib lain. Sebuah malam yang indah, saat kamu menyadari punya teman untuk sekedar berbicara dan berbagi.

Saat kutengok jendela, jalanan Jakarta kian sepi. Malam mulai terusir, pembagian waktu mulai memasuki pagi. Kami akhirnya bubar, tentu dengan gelayut ikiran berbeda di benak masing-masing.

Hariku 10:24 am

September 9, 2005

Kaum Sufi membagi manusia menjadi empat jenis:

Pertama: orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dia tidak tahu. Inilah orang bodoh sederhana yang mudah diobati, yaitu dengan pengajaran dan pendidikan.

Kedua: orang tahu, dan dia tidak tahu bahwa dia tahu. Kaum Sufi mengibaratkan orang ini tertidur. Maka dia harus dibangunkan dan disadarkan akan kelebihannya yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Ketiga: orang yang tahu, dan dia tahu bahwa dia tahu. Orang ini tergolong kaum bijaksana yang harus diikuti dan dimintai pendapat.
Keempat: orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang inilah yang disebut bodoh kuadrat. Karena selain bodoh juga tidak tahu akan kebodohannya sendiri. Kita bisa bayangkan, betapa sulitnya mengobati kebodohan orang seperti itu. Pangkal penyakitnya ialah tidak tahu diri.

Empat jenis manusia itu mestinya sudah pernah kamu dengar. Mungkin sambil mengangguk-angguk membenarkan, atau barangkali tidak perduli? Nah, sekarang coba deh merenung, termasuk di kategori apa kita ini? He he he

Hariku 10:22 am

Temanku yang ceria, kini tidak bisa lagi bersikap hitam dan putih. Sebelumnya dia begitu bersikukuh, dalam kehidupan ini manusia seharusnya bisa menempatkan diri di zona hitam atau putih. Bagi dia, tidak ada warna abu-abu.

Tapi sepulang dari sebuah perjalanan, semuanya berubah. Matanya berbinar, gerak tubuhnya gemulai, kecantikannya memancar keluar. Dan dia pun bercerita, bla…. bla…. bla…..

Amboi dia jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Dia memasuki wilayah abu-abu. Jadi, aku ngomong ke dia, ‘’selamat datang di zona abu-abu.’’

Sambil senyum-senyum kecil nan bahagia, dia menjawab, ‘’aku bukan di zona abu-abu, tapi warna-warni.’’

Alamak, indah nian. Jadi aku bilang, ‘’oke, kamu ada di zona warna-warni dengan warna dasar abu-abu.’’

Temanku tidak menjawab, hanya menebar senyum ke kanan dan ke kiri. Matanya penuh bintang, berbinar gemerlap, dan senyumnya itu semanis madu. Kulitnya yang kini berwarna hitam mengkilat — mungkin karena baru terpanggang matahari dan kemudian diimbangi perawatan — kian bersinar dan melembut.

Oke deh teman, aku melihat bintang-bintang di matamu. Tapi hati-hati dengan zona abu-abu yang kamu masuki!

Huaaaa!!!! Bu Ani bener lagi euy!

Hariku 10:22 am

Nurcholis Madjid pergi…..
Saat mendengar berita itu, rasanya ada sejumput kegelisahan. Hanya getaran kecil, tapi cukup mengusik. Apalagi jika dikompilasi dengan kejadian terkini seperti penutupan gereja dan munculnya Gerakan Antipermurtadan yang didukung 27 organisasi massa Islam, di antaranya Front Pembela Islam dan Barisan Pemuda Persis.

Perasaan gelisah sempat lama terabaikan (atau sengaja diabaikan?) oleh kesibukan dan mungkin juga keengganan berpikir lebih jauh. Tapi akhirnya terpikirkan juga, meski hanya dipermukaan dengan pemikiran simpang siur, seperti puluhan bintang yang berpindah tempat secara bersamaan.

Gelisah muncul karena merasakan hilangnya sosok pemikir penyeimbang….
Lebih pada titik itu, bukan peristiwa penutupan gereja atau munculnya gerakan baru yang menuai pro dan kontra.

Secara pribadi, saya tidak pernah mengenal Cak Nur. Sekali pernah bertemu — berkaitan dengan pekerjaan — selebihnya mengenal pemikirannya lewat tulisan, buku, dan cerita teman-teman, termasuk dari IAIN dan Paramadina.
Pemikiran Cak Nur tentang pluralisme sungguh menciptakan rasa hormat. Nurcholisn menghargai pluralisme tanpa kehilangan pandangan bahwa Islam agama terbenar dan terbaik.

Rasa hormat juga muncul dari para rokoh pemikir seperti Gunawan Mohamad dan Frans Magnis Suseno.
Dalam buku berjudul Pintu-Pintu Menuju Tuhan yang ditulis Nurcholis, Gunawan Mohamad memberi pengantar agak emosional. ‘’Setiap kali saya mendengarkan Nurcholis Madjid, setiap kali saya merasa ada yang terselamatkan dalam iman saya: Tuhan yang maha esa itu adalah Tuhan yang inklusif. Ke dalam kemahapemurahan itu, saya tidak ditampik.’’

Dalam tulisan lain, giliran Frans Magnis angkat topi. Cak Nur pernah mengatakan, ‘‘apabila Tuhan yang bersifat mutlak membiarkan adanya agama-agama lain, maka manusia yang bersifat tidak mutlak jangan memaksakan keyakinannya pada orang lain.’’

Sebuah pemikiran berani yang tentunya tidak lahir begitu saja. Dan seperti biasa, dunia selalu melahirkan dua sisi. Baik-jahat, barat-timur, liberal-komunis, dan juga setuju-tidak setuju. PeMikiran tokoh yang dianggap memiliki banyak kesabaran ini pun menuai kritik.

Di Majalah Tempo edisi 5-11 September , kira-kira tertulis demikian:
Sebulan sebelum kepergiannya — lelaki kelahiran Jombang 17 Maret 1939 — ini menerima tamu istimewa di rumahnya. Yakni tiga wakil Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang mengaku mendapat titipan pesan dari Amir (MMI) dan Abu Bakar Ba’asyir.
Pembicaraan berkembang jauh dari sikap Cak Nur mengenai makna frase ‘’semua agama sama’’, pluralisme, hingga hukum perkawinan beda agama. Rupanya itulah dialog yang berlabuh pada dua kesimpulan: para tamu menyuruh dia bertobat dan mencabut pernyataan-pernyataan itu.
Tapi Cak Nur tidak marah. Dia mengatakan, ‘’saya tidak dalam posisi untuk menjawab.’’ Dan ketika tamunya berpamitan pulang, ia tetap mengantarkan, meski sebelumnya sudah dicecar sedemikian rupa.

Dalam Tempo edisi yang sama — catatan pinggir Gunawan Mohamad — di awal tulisan tertulis:
Lima hari setelah Nurcholis Madjid meninggal, di sebuah masjid kecil di Jalan Talang, Jakarta, seorang khatib berbicara tentang sesuatu yang menakutkan: dengan sebuah otoritas yang ia kesankan melalui mihrab dan kata-kata Arab, ia mengucapkan sesuatu yang tak benar. Ia mengatakan bahwa wajah jenazah almarhum menghitam. Kata sang pemberi kotbah ini, karena Nurcholis diazab Tuhan.

Sangat mengerikan! Penarikan kesimpulan dengan pemikiran dan wawasan yang dangkal. Wajah Nurcholis memang menghitam, tapi itu disebabkan pengaruh cangkok levernya yang tidak sepenuhnya berhasil.

Apa yang tertulis di catatan pinggir itu membuat saya gemetar. Gemas dan takut pada perkembangan ke depan. Cemas, akankah lahir Nurcholis-Nurcholis baru yang kesabaran dan pemikirannya bisa menjadi penyeimbang?

Tulisan itu menggugah kembali kegelisahan masa lampau yang sudah berhasil terabaikan. Saat mendengar kotbah khatib di masjid-masjid yang begitu gampangnya memojokkan agama lain. Ngeri melihat hasil dari kotbah itu terhadap massa sholat Jumat. Banyak orang menelan mentah-mentah, meski ada juga yang geleng kepala.

Gugahan perasaan yang sama sempat muncul sekitar satu tahun lalu, ketika berbincang dengan beberapa penganut dan pendeta salah satu aliran agama Kristen. Dalam upaya menganggap agamanya terbenar, mereka menanamkan pada umatnya bahwa agama lain tidak akan diterima Tuhan. Artinya, mereka masuk neraka. Sebenarnya sebuah tafsir sama, yang dianut beberapa penganut agama lain yang militan.

Benar-benar membuat kening berkerut dan hati berkedut. Apakah orang baik yang tidak memeluk agama sesuai dengan keyakinan penganut lain berarti akan masuk neraka? Sementara orang jahat yang masuk dalam kepercayaan yang dianggap benar bisa masuk surga? Sebuah pemikiran naif yang muncul begitu saja dalam benak saya.

Tapi disamping itu, ada kegelisahan lain. Tidakkah akan lebih baik jika seorang khatib dan pendeta dibekali dulu pendidikan dan wawasan luas, sebelum berkotbah menyebarkan pengetahuan dan tafsirnya ke banyak orang? Hanya pemikiran dan angan-angan kecil yang belum tentu berguna, tapi saya lontarkan dengan penuh harapan terhadap sebuah impian, perdamaian.

Terlepas dari semua itu, menyimak pemikiran Cak Nur memang sangat menarik. Banyak buku bisa dibaca. Di antaranya yang kaya makna dan ditulis dengan bahasan sederhana serta mudah dimengerti, yaitu Pintu-Pintu Menuju Tuhan. Mengetengahkan tulisan-tulisan pendek dengan puluhan subjudul tentang berbagai persoalan. Mulai dari Islam Agama Manusia Sepanjang Masa, Iman Tidak Cukup Hanya Percaya, Tentang Kiblat dan Maknanya, Nabi Muhammad yang manusiawi, Isa dan Keluarga Imran, Dokumen Aelia, Ulama Bukan Pendeta, Makar Tuhan, hingga Berlagak Suci dan Berbuat baik pada Orang Tua.

Bahasan tentang Nabi Muhamad dan Jengis Khan, satu dari sekian banyak tulisan menarik. Digambarkan, tokoh yang satu pembawa kebaikan, satu latu lagi pembawa bencana.
Tapi disebutkan, ada satu titik kesamaan, yaitu keahlian dalam strategi dan taktik peperangan. Keduanya adalah mahajendral yang dengan pimpinannya dan lewat para pengikutnya telah menaklukkan dan menguasai daerah pusat peradaban.
Tapi ada lagi satu titik yang amat kontras antara dua maha jenderal itu, saat kita sekarang mencoba melihat dampak, bekas, atau warisan pengaruh mereka. Dari Nabi Muhammad, kita dapat melihat dengan mudah bukti-bukti kebesaran yang ditinggalkan, yaitu keberadaan dan penyebaran umat Islam.
Tapi Jengis Khan? Tidak ada bekas apa pun kecuali cerita tentang kemenangan militernya dan catatan hitam kekejamannya.

Di subjudul lain, Cak Nur bercerita tentang Dokumen Aelia. Sebuah naskah perjanjian yang dibuat Khalifah ‘Umar Ibn al-Khaththab, dengan penduduk Kota Aelia, nama lain untuk Yerusalem. Pada waktu kota itu jatuh ke tanga orang beriman, Yerusalem adalah kota suci tiga agama, Yahudi, Kristen, dan Islam. Karena pentingnya kota itu bagi kaum Muslim, patriak yang menguasainya tidak menyerahkan kepada mereka, kecuali jika pemimpin tertinggi mereka sendiri, yaitu Khalifah ‘Umar, datang menerimanya secara pribadi.
Singkatnya, peristiwa sejarah yang tercatat dalam Dokumen Aelia memperlihatkan bagaimana sikap Islam kepada agama-agama lain, khususnya agama Ahl al-Kitab, seperti Yahudi dan Kristen. Yaitu sikap menenggang dan menghargai.
Dalam Dokumen Aelia termuat jaminan Islam untuk kebebasan, keamanan, dan kesejahteraan kaum Kristen beserta lembaga-lembaga keagamaan mereka. Berbeda dengan kebijakan kaum Kristen sebelumnya, kaum Islam juga mengizinkan kaum Yahudi ikut menghuni kembali Yerusalem. Namun karena kaum Kristen keberatan jika dicampur, maka ‘Umar pun menempuh jaln membagi Yerusalem menjadi sektor-sektor Islam, Yahudi, dan Kristen.
Mengapa ‘Umar menempuh politik yang begitu liberal? ‘Umar hanya menyontoh sunnah Nabi saw yang telah membuat konstitusi Madinah yang terkenal itu.

Membaca ulasan-ulasan Cak Nur sungguh menyejukkan hati. Andai sikap seperti ‘Umar dapat diterapkan dalam kehidupan di Indonesia, sungguh indah. Dalam pikiran saya yang jelas sangat sangatlah kecil, buat apa ada keributan dan penekanan antara satu agama dan agama lain. Buat apa ada kecurigaan yang bisa menghancurkan moralitas individu dan sebuah bangsa?
Penekanan, pemaksaan, dan sifat-sifat sejenis, tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali keresahan, kemarahan, ketakutan, kecurigaan, yag akhirnya bisa bermuara pada kekerasan.

Sejarah membuktikan, semua persoalan saling terkait antara sebab dan akibat. Banyak peristiwa yang menghasilkan adukekuatan yang tidak berarti. Penekanan pada kaum minoritas, selalu menghasilkan sesuatu di luar perkiraan kaum mayoritas.
Masyarakat Yahudi, kini diam-diam menguasai dunia dengan pengendalian ekonomi. Keturunan China di Indonesia, kini juga menguasai perekonomian negeri ini.
Dalam kehidupan beragama, penekanan menimbulkan eksklusifitas. Baik itu dalam Islam dengan berbagai aliran seperti Ahmadiah, atau pun dalam Kristen seperti misalnya Bethani. Eksklusifitas pada akhirnya akan menimbulkan sifat parokial. Dalam tekanan, mereka justru saling membantu, menguatkan dalam segala hal. Mulai dari ekonomi hingga bidang kehidupan lain.

Dengan berbagai bukti dan kemungkinan itu, tidakkah akan lebih baik jika kita saling menghargai, seperti yang diteladankan ‘Umar dalam Dokumen Aelia?

SALAM

Hariku 10:20 am

August 30, 2005

‘’Kau harus siap menerima risiko, merasakan kesedihan yang sangat ketika kau sudah memutuskan dirimu untuk dijinakkan orang lain…’’

Kata-kata itu diucapkan rubah pada pangeran kecil dari planet lain dalam buku berjudul Pangeran Kecil karya Antoine de Saint-Exupery. Rangkaian kalimat yang sebenarnya sangat sederhana tapi sarat makna. Sebagai manusia, kita sering mengalami perasaan seperti itu dalam kehidupan sehari-hari.

Aku memunyai teman yang menganggap anak kecil sebagai setan berwajah malaikat. Lama setelah pembicaraan itu, aku baru tahu, dia sengaja menutup hatinya karena tidak mau dijinakkan. ‘’Aku tidak mau kecewa saat harus berpisah,’’ begitu katanya.

Aku sendiri sekarang enggan memiliki hewan peliharaan. Aku enggan menyerahkan hatiku untuk dijinakkan. Aku tidak mau lagi meratapi kepergian Hero, Nero, Lesi, Lisa, Snowi, atau siapa pun.

Aku punya lagi seorang teman yang mengaku sangat rasional. Namun toh dia tetap berhasil dijinakkan atas nama asmara. Meski nasib tidak membuat mereka bersatu, agaknya asmara lama belum padam. Tapi temanku itu dengan yakin mengatakan., aku sudah mengakhiri semuanya tanpa rasa sedih. Itu hanya persoalan menyetel pikiran dan perasaan. Sesederhana itu? Aku kok enggak yakin. Masa sih dia begitu tidak berperasaan?

Makna jinak-menjinakkan dalam cerita Pangeran Kecil itu menurutku memang sangat dalam. Gak cuma tentang asmara, tapi juga menyangkut persaudaraan, persahabatan, orang tua ke anak, anak ke orang tua, dan masih banyak lagi.

Masalahnya, terkadang kita tidak mau dijinakkan tapi tahu-tahu tanpa sadar sudah dijinakkan.
Terkadang kita ingin dijinakkan tapi orang atau apa pun apa pun yang kita maksud tidak mau menjinakkan.
Nah, kalau sudah begitu’kan repot. Belum lagi kalau ada proses jinak-menjinak yang tidak pada tempatnya. Yaaah, akhir kata, perkataan rubah itu lagi yang benar.

‘’Kau harus siap menerima risiko, merasakan kesedihan yang sangat ketika kau sudah memutuskan dirimu untuk dijinakkan orang lain…’’

Dalam cerita itu, rubah memohon agar Pangeran Kecil mau menjinakkan dia. Permintaan itu akhirnya dikabulkan. Tapi saat Pangeran Kecil akan pergi, dia menangis tersedu-sedu.
‘’oh!’’ isak si rubah. ‘’Aku akan menangis.’’
‘’Ini salahmu sendiri,’’ kata Pangeran Kecil. ‘’Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Tapi kau sendiri yang memintaku untuk menjinakkanmu.’’
‘’Aku tahu,’’ jawab si rubah.
‘’Dan kau tetap akan menangis!’’ kata Pangeran Kecil.
‘’Aku tahu,’’ jawab si rubah lagi.
‘’Dan kau tidak memperoleh apa-apa dari semua yang terjadi ini!’’
‘’Tidak, aku sudah memperoleh sesuatu darinya,’’ bantah si rubah, ‘’yaitu kenangan atas warna ladang jagung (yang mirip warna rambutmu).’’

Kemudian rubah menyuruh Pangeran Kecil melakukan sesuatu, sebelum mengungkapkan sebuah rahasia lagi:
’Kau dapat melihat segala sesuatu dengan begitu jelas hanya melalui hatimu. Karena memang hal-hal inti tidak terlihat di depan mata. Kau tidak boleh lupa bahwa kau harus selalu bertanggungjawab atas apa yang kau taklukkan.’’

TAMATULKALAM

Hariku 10:20 am

August 19, 2005

Kalau dipikir,
hidupku itu seperti kue lapis ajaib,
tapi dengan kejutan rasa nano-nano

Setiap hari, bahkan mungkin setiap detik,
kubuka selapis demi selapis
dikunyah pelan-pelan
dan daa daa
kejutan rasa!

Waktu kecil,
aku coba ambil satu lapis
mengunyah pelan-pelan
dan keluarlah kata mama…papa…

ambil lagi satu lapis
dikunyah pelan dan ibuku bilang,
eeeh anakku sudah bisa berdiri

Waktu akil balik,
kubilang mama aku blooding
huaaa…huaaa….
mamaku bilang, tidak apa-apa nak
itu tandanya kamu sudah besar
lebih hati-hati berhubungan dengan laki-laki

Waktu akil balik
bapak ibuku meminta hal sederhana
tapi aku ogah dan banting pintu
gubrak! aku lebih suka sendiri di kamar
Mulai deh nyakitin hati orang tua

Lebih besar lagi
aku kunyah lapisan berikut,
dan olala, aku jatuh cinta.
Tapi cinta monyetku kandas
dengan cara super sukses

Kukunyah lagi kue lapis,
hari demi hari berlalu
masih banyak lagi kejutan rasa.
Kadang manis,
dan aku tersenyum, tertawa terbahak-bahak
Kadang pahit,
membuatku menangis tersedu-sedu
Kadang mengagetkan
jantungku serperti jatuh ke dalam sumur
Kadang membanggakan,
dan hidungku mekar seperti bunga mawar

Berpuluh tahun berlalu,
aku tetap belum bisa menebak
apa rasa kue lapis berikut.
Semua itu terkadang terasa membosankan,
kadang begitu menantang,
dan terkadang membuatku merasa bodoh

Tapi aku tidak berhenti mengunyah
aku gelisah…
aku ingin menciptakan rasa kue lapis baru
rasa baru yang bisa membuatku lebih mengerti
rasa baru yang bisa membawaku pada
kebijaksanaan, kepasrahan,
dan juga pemahaman pada diri sendiri

Jadi, sampai sekarang,
aku tidak pernah berhenti mengunyah
nyamm…. nyamm….
tok…tok…tok
rasa apa yang akan kudapat hari ini?

Hariku 10:19 am

August 18, 2005

Cakrawala menggantang purnama
Berlahan menuju puncak persembunyian

Bumi menyangga purnama
memastikan kaki tetap terjejak
langit tetap menaungi
dan cakrawala tetap terlihat

Wahai purnama
perjalanan adalah lintasan panjang

Cakrawala tetap menggaris
menantang perjuangan
dan kau terengah
saat kepak kecilmu berusaha menggapai

Hariku 10:18 am

August 17, 2005

Gw sekarang lagi dalam kondisi marah dan kesel. Waah, rasanya sulit ya melakukan koordinasi di pekerjaan yang melibatkan banyak orang dengan berbagai karakter. Waduuh, gimana ngurus negara? Pasti mumet. Bener-bener butuh seni menghadapi ragam karakter orang.
Bayangkan, saat ada yang berbuat salah, diingetin, malah dia lebih marah. Padahal kesalahannya itu mengganggu semua sistem. Nada ngingetinnya juga biasa saja. Misal, ‘’eh teman, kamu terlambat sekali menyerahkan file (misalnya). Harusnya kemarin.’’
Lah, dia kok yang marah. Jawabannya, ‘’laporin aja kalau gw telat.’’
Aduh hati gw tuh rasanya mendidih. Gw langsung pergi, mondar-mandir gak karuan supaya tenang dulu. Setelah agak tenang gw samperin lagi. Gw kasih tahu, kalau elu telat, semua jadi telat. Wajar dong kalau gw ditegor atasan, gw ngingetin lagi ke elu. Jadi, jawabannya jangan nyakitin gitu dong. Sebab tugas gw memang ngingetin.
Nah, dia langsung bla…bla…bla…. Dia jawab gw baru datang langsung ditanya, jadi kesel. Teori pembenaran gw, sudah telah 24 jam, semua mulai panik, gimana ngeliat dia enggak langsung seneng dan tanya? Terus dia bilang selama lima tahun gw juga disakiti atasan (yang di atas gw kali.) La dalah, Gusti Allah, kasih aku kesabaran. Dewasakan aku.
Yaah, setelah ngobrol kiri-kanan, napas gw rasanya sampai mau putus saking kesel dan gak ngerti, akhirnya persoalan selesai. Gw nulis ini sih maksudnya buat nulis saja, meringankan hati.
Gw tahu sih, hal seperti ini sebenarnya tantangan yang bisa lebih matengin emosi gw. Tapi kadang ada rasa frustasi juga. Kadang gw pikir, apa gw enggak bisa ya melaksanakan tugas gw. Tapi setelah nulis ini gw normal lagi kok. Apalagi habis bincang sama temen gw yang sabar dan baik hati. Gw perlu banyak belajar euy! Bukan cuma ilmu, tapi juga komunikasi, dan kesabaran. eheeem!!!

Hariku 10:15 am

August 1, 2005

Aku penyuka dragon fly yang lebih dikenal dengan sebutan capung. Saat terbang, kepak sayapnya terasa begitu memesona. Gerakannya sering tidak terduga, ke atas, ke samping, melonjak lagi, atau tiba-tiba melayang ke bawah. Terkadang begitu mengejutkan.

fly

Saat aku gembira, sekali lagi dragon fly mewakili perasaan itu. Keriangan dan rasa ingin tahu membuat dia terbang ke sana kemari. Gerakannya sungguh indah. Sayapnya yang transparan terlihat begitu berkilau di bawah cahaya matahari.

Pokoknya, dragon fly bisa mewakili seluruh perasaanku. Dan sekarang ini, gw lagi melo kali yeee! Soalnya sayap capungnya jadi tambah indah! Dan sekarang gw rasanya lagi terbang mengarungi kehidupan dan mencari sesuatu yang baru dan lebih berarti. hmmmm!