Waktu melesat seperti peluru…
Kemarin,
sendiri mencuri waktu
menonton Breaking Dawn
ditemani satu dus popcorn ukuran medium
wadooow…
Waktu melesat seperti peluru…
Kemarin,
sendiri mencuri waktu
menonton Breaking Dawn
ditemani satu dus popcorn ukuran medium
wadooow…
…
Dimanakan engkau sahabat jiwaku?
Adakah engkau di altar berdoa untukku?
Atau di padang rumput menyeru kepada alam
Tempat berlindung pesona dan impianmu?
…
Dimanakah kau kini sahabatku?
Apakah kau terjaga di malam hening?
Menantikan angin sepoi basa
Yang akan membawa debaran hati atau pikiran bernas ke arahmu?
Atau memandangi lukisan cinta remajamu?
Lukisan itu tak lagi menyerupai yang dilukiskan
…
Kesedihan telah mengeringkan setangkup bibir yang dibasahi oleh ciumanmu
…
Dimanakah engkau kekasih jiwaku
Adakah kau dengar seruan dan ratapanku dari seberang lautan?
Tersenyumlah kepada udara, dan diriku akan segar kembali
…
(Airmata dan senyuman/khalil Gibran/Pada ombak yang pernah begitu tinggi menari bersamaku…)
PAGI ini, saya meminjam kamar seseorang untuk berdoa. Heran melihat buku lama Khalil Gibran bertajuk Sang Nabi, tergeletak begitu saja. Saya abaikan.
Namun, usai ritual doa, saya tidak tahan mengambil buku yang seharusnya tidak ada di kamar itu, karena pemiliknya tak suka membaca.
Lalu, saya membaca acak dan terbuka pada pertanyaan tentang cinta. Hmmm…akhirnya saya ingin menulis ulang tentang pengertian cinta versi Gibran di blog ini…untuk kamu, untuk aku, untuk kita, dan untuk hidup kita yang terkadang bisa begitu biru…
PABILA cinta memanggilmu, ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku.
Dan pabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia bicara padamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpimu, bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan.
sebab sebagaimana cinta memahkotaimu, demikian pula dia menyalibmu. Demi pertumbuhanmu, begitu pula demi pemangkasanmu.
Seebagaimana dia membubung, mengecup puncak-puncak ketinggianmu, membelai mesra ranting-ranting terlembut yang bergetar dalam cahaya matahari, demikian pula dia menghujam ke dasar akarmu, mengguncang-guncangnya dari ikatanmu dengan tanah.
….
….
Namun jika dalam kecemasan, hanya kedirian cinta dan kesenangannya yang kaucari,
maka lebih baiklah bagimu menutup tubuh lalu menyingkir dari papan penempaan,
memasuki dunia tanpa musim, dimana kau dapat tertawa, namun tidak sepenuhnya,
tempat kau pun dapat menangis, namun tidak sehabis airmata
Cinta tak memberikan apa apa, kecuali keseluruhan dirinya, utuh penuh
pun tidak mengambil apa apa, kecuali dari dirinya sendiri
cinta tidak memiliki atau pun dimiliki
karena cinta telah cukup untuk cinta
….
….
Pun jangan mengira kau dapat menentukan arah cinta
karena cinta, pabila kau telah dipilihnya, akan menentukan perjalanan hidupmu
Cinta tidak berkeinginan selain mewujudkan maknanya
Namun jika kau mencintai disertai berbagai keinginan, ujudkanlah dia demikian
meluluhkan diri, mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan lagu persembahan malam,
mengenali kepedihan kemesraan yang terlalu dalam,
merasakan luka akibat pengertianmu sendiri tentang cinta,
dan meneteskan darah dengan sukarela dan sukacita.
Bangun di fajar subuh dengan hati seringan awan
mensyukuri hari baru penuh sinar kecintaan
istirah di terik siang merenungkan puncak puncak getaran cinta
pulang di kala senja dengan syukur penuh di rongga dada
kemudian terlena dengan doa bagi yang tercinta dalam sanubari
dan sebuah nyanyian puji syukur tersungging di bibir senyum
Khalil Gibran
1.
Sekali lagi aku jatuh cinta pada ranting keringmu
Pada Keras dan getasmu
Pada padang pasir yang kaubebat dengan kain
–di tempat terbuka
Masa lalu seperti pemijit buta
mencengkeram bahu
Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, api unggun, gitar dan lagu lagu
oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu
Pemijit buta terus bekerja
Meraba-raba yang luka dan tak luka
Lalu semua pori-pori terbuka
Lebih dari yang seharusnya
Datang angin dari depan dan belakang
Datang cinta yang dulu dan sekarang
Aku jatuh cinta sekeras penolakanku atasnya
Pada ranting dan padang pasirmu
Pada keras dan rapuhmu
Pada angin yang menghadirkan bau tubuhmu
Ini hanya perkara lama yang tak pernah selesai
4.
Di dekatmu aku mencium harum bayi
Meruap dari pori-pori
Kuputuskan menjauh
Kauputuskan menjauh
Supaya tak ada yang celaka
tak ada yang terluka
Dan seluruh peristiwa
baik baik saja–sepertinya
Sampai suatu saat kita terpaksa merapat
Tragedi itu tercipta lagi dengan cepat
Aku meraba-raba kelelahan di tubuhmu
Kau mencabuti uban di rambutku
–Bocah bocah tua bermain api masa lalu
Harus berakhir sebelum seluruhnya lahir
5
Apa kabarmu, lama aku tak menyentuhmu
Bercak putih itu
apa masih bertahan di jempol tanganmu
Kita sama menua di ruang yang sama
Cepat lupa dan tak waspada
Tak awas lagi pada logika
Padahal, ada yang belum usai dan bahaya
:Kesepianku mengancammu
Larilah, jangan tidur di pangkuanku
Apa kabarmu, lama aku tak memelukmu
Racun putih itu
apa masih melekat di ujung bibirmu
Banda Aceh-Yogyakarta 2006
Gunawan Maryanto, Kompas 24 September 2006
Tak lagi kupuja malam
sebab kelamnya sungguh tak bertepi
tidakkah kau mengerti
pertemuan dan perpisahan selalu sisakan perih
sisakan gigil
tentang debar yang menggetarkan jiwa
tentang satu tanya
di gelap mana aku ada?
(postingan lama)
Tiba-tiba saja, saya ingin memposting beberapa puisi Soe Hok Gie tentang hidup, tentang cinta, kekecewaan, kesepian, dan harapan…
Sebuah Tanya
akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendalawangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara, tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu, kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti, seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru
Untitled
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendalawangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegaklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Saya berkhayal kita punya satu ruang kerja yang sama
dikelilingi banyak buku…buku kita…
mungkin sesekali kamu akan tertawa, karena saya menyukai segala jenis buku, termasuk roman picisan
Saya membayangkan kamu sibuk menyelesaikan tugas, saya membuat tulisan
atau kamu membuat tulisan, saya membaca buku
atau kamu membaca buku, saya menulis
atau saya menulis, kamu minum tuak…
atau mungkin kita hanya duduk diam, mendengarkan suara hati dan berkhayal bersama
atau kita hanya saling pandang dan tersenyum, karena kita sudah sama sama tua…
Ini air mata pertama saya untuk kamu, lelaki yang tau apa yang dia mau, lelaki baik yang sering membuat saya sedih, lelaki yang bisa membuat saya senang, meski hanya dengan kardus dan korek api…Gbu…
Senja adalah kita teman
kamu dan aku
tak perlu lagi kata-kata
(pulau sepa mengakhiri hari…Oktober 2009)
Kita - kamu dan aku, serta kata-kata yang hanya menggantung di udara…
hu uhuu…banyak buku yang mau dibeli, tapi mahal-mahal
waktu mahal, buku mahal…(cari gratisan aja deh)
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api
WS Rendra
TERAKHIR saya berkomunikasi dengan Hairi tanggal 21 Maret 2009.
Via Telepon Hairi langsung bicara: “Panjang umur, baru juga kita ngomongin, kok sudah lama enggak datang.”
Dan sejak dua minggu lalu keinginan saya untuk berkunjung ke tempat Sugi dan Hairi terus muncul. Tapi seperti biasa, saya selalu menunda.
Pagi ini SMS mengejutkan saya terima:
“Inalilahiwainalilaihiroziun, telah berpulang ke rahmatullah saudara Hairi, Senin pukul 03.45 di RSK Darmais…”
Duuuh… kenapa kemarin saya menunda-nunda terus? Selamat jalan Hairi…
Minggu, saya ‘berkenalan’ (saya lebih dulu kenal keluarga mereka) dengan suami istri yang sangat dekat dengan dunia politik dan TNI. Barangkali untuk beberapa sejarah yang masih juga tak jelas di negeri ini, mereka memegang kunci rahasia.
Dari percakapan dan canda, saya mendapat banyak informasi langsung dari ring 1. Tentang ambisi, percintaan, affair, dan dunia magis. Menyegarkan karena dalam hubungan manusia dengan manusia mereka benar-benar menyenangkan. Sangat sangat manusiawi.
Tapi soal politik? Sekali lagi saya angkat tangan. Entah saya yang penuh curiga, atau mungkin perasaan saya saja yang terlalu berprasangka. Saya tetap merasa tidak nyaman. Saya tak mau masuk dalam lingkaran itu, karena saya benar-benar tidak merasakan passion yang pas Bagi saya, dunia itu rawan pemanfaatan dan memanfaatkan.
Jadi saya putuskan menarik diri di batas luar. Mendengarkan saja kalau sudah bicara soal politik. Tapi kalau hal lain hahaha…menyenangkan. Saya seperti membaca buku-buku berkarakter Sydney Sheldon…hmmm…
Mencapai segala sesuatu memang tidak perlu ngoyo alias memaksakan segala hal. Pengorbanan memang perlu tapi kan harus menggunakan akal sehat. Terlalu banyak yang dikorbankan tapi hasil tidak sesuai, akhirnya yang muncul rasa sakit dan tidak terima. Itu yang terjadi pada beberapa temanku, baik dalam hal percintaan mau pun karir.
Sebagai penonton, saya belajar banyak…
INI film yang bisa membuat saya nonton berkali-kali tanpa bosan. Senang dengan acting Val Kilmer. Benar-benar senang.
Suka dengan persahabatan Doc Holiday (Val Kilmer) dan Wyatt Earp (Kurt Russel– yang jadi tokoh utama). Saya suka percakapan saat Doc terbaring sakit dan Wyatt mendapat tantangan duel dari musuhnya. Juga percakapan Doc dan Wyatt, saat Doc dirawat di sanatorium sampai akhir hayatnya.
Ala hollywoodnya, saya suka saat Doc tiba-tiba muncul menggantikan posisi duel Wyatt dan Johnny Ringo.
Coba deh tonton film ini. Film lama, kalau tidak salah dibuat tahun 1993 tapi sampai sekarang tetap bisa membuat saya terpesona.
Di pohon johar yang istirah
di musim penghujan yang basah
aku tumbuh dari rasa sakit masa lalu
Menyulam rumah berkabut
Karya S Yoga, diambil dari harian Kompas 18 Jan 09
KEMARIN saya berbincang dengan dokter kantor yang juga psikiater. Perpincangan berlanjut ke masalah hipnosis. Dalam hal penyembuhan, tentu dokter ini sudah berpengalaman. Juga praktek hipnosis.
Dari perbincangan iseng tadi, saya bertanya, “Boleh dong ilmu hipnosisnya dicoba?”
“Boleh, boleh,” jawab dokter tadi.
Asistennya memberitahu, ternyata sudah banyak teman di kantor yang minta bukti keajaiban hipnosis. Kisahnya, ada yang lupa nama sendiri, ada yang tak bisa melepas kaitan tangan, ada pula yang tak kuat mengangkat botol.
Maka, saya berniat mencoba. Apalagi dokter itu bilang, kalau saya sudah berhasil fokus dan dihipnosis, ada keuntungan tambahan, yaitu akan lebih kebal pada kejahatan dengan dasar hipnosis. Waaah, boleh juga tuh, pikir saya.
Jadilah saya memasuki tahap hipnosis. Ada proses saat dokter mengatakan saya akan lupa nama sendiri. Saya juga akan lupa siapa saya sebenarnya. Saya diminta mengosongkan pikiran sekaligus fokus melupakan diri saya. Maka, saya membayangkan diri tersesat, tidak ingat apa-apa lagi, kosong…kosong.
Saat disuruh membuka mata, dokter itu bertanya, siapa nama dirinya, dan saya jawab betul. Ketika ditanya siapa saya? Astaga…saya tetap ingat, menyebut nama dengan lancar.
Lalu, dicobalah sekali lagi. Kali ini saya disuruh melupakan angka dua. Sekali lagi, saya mengosongkan pikiran. Saya benar-benar berusaha keras untuk berkonsentrasi, mematuhi semua perintah sang dokter. Lalu saya disuruh membuka mata, dan diminta menghitung 1-10.
Saya mulai menghitung, lalu berhenti pada angka satu. Dengan tidak enak hati saya berkata, “Tapi dokter saya tetap ingat angka dua.”
Sekali lagi proses hipnosis gagal . Dan akhirnya disudahi. Dokter itu bilang, saya kurang konsentrasi. Terus dia menjelaskan, di dunia ini, ada 20% orang yang mudah dihipnosis, 70% sedang-sedang saja, dan 10% sulit dihipnosis karena otak kiri terlalu aktif.
Saya pikir, mungkin saya ada di antara 70% dan 10% alias di antara yang sedang-sedang dan sulit.
Tapi masa iya sih? Selama ini saya selalu berpikir sebagai orang yang gampang di hipnosis. Bagaimana tidak? Saya ini mudah terpengaruh dengan histeria masa. Saat peristiwa Mei 1998, begitu ada teriakan dan orang berlarian, saya langsung ikut ambil langkah seribu. Benar itu, jadi mungkin kemarin itu saya memang kurang fokus. Dokter itu berjanji, akan mencoba lagi.
SUATU hari, saya mendapat pertanyaan, apa beda makna senang dan bahagia?
Trus berlanjut peristiwa dan keadaan seperti apa yang pernah membuat saya senang dan bahagia?
Nah, untuk pertanyaan kedua, saya terpaksa termenung lamaaaa sekali. Apa ya? Gawat nih…apa ya perasaan yang paling menonjol dalam kehidupan saya? Saya ingat perasaan takjub saat pertamakali melihat putri kecilku menghirup udara. Perasaan ajaib saat pertamakali melihat dia digendong suster dan disodorkan kepada saya, ibunya.
Selanjutnya? Terlepas dari segala keajaiban yang terus diberikan putri kecilku, apa ya? Saya masih termenung. Bukan tidak ada yang bahagia dan tidak senang. Bukan pula ada kesedihan. Lalu apa? hahaha…
Itu yang saya bingung. Sebingung saat diajak teman membaca tarot dan disuruh melontarkan pertanyaan pada ‘tukang’ tarot yang sudah menunggu di seberang meja. “Apa yang harus saya tanyakan? ”
“Masalahmu to mbak?” kata teman saya tadi.
“Waduuuh, apa ya?”
Akhirnya saya bilang, ya sudah liat saja semua hahaha.
Orang Bajo, Suku Pengembara Laut, Pengalaman Seorang Antropolog
Penulis Francois-Robert Zacot
Penyunting: Atika Suri Fanani
Penerjemah: Fida Muljono-Larue & Ida Budi Pranoto
Penerbit : Mizan
Silakan buka sabuku.com
Buku ini memadukan kisah petualangan dan studi ilmiah seorang antropolog Prancis di desa orang Bajo yang terpencil di Sulawesi Utara. Akibat keterpencilan mereka sepanjang sejarah, orang Bajo membawa jejak-jejak perpindahan penduduk yang menghuni Asia Tenggara sekitar dua ribu tahun yang lalu. Membaca buku ini kita bisa mengatahui bagaimana orang Bajo melahirkan, mendidik anak, bahkan membuang hajat. Diuraikan pula soal kepercayaan mereka terhadap setan-setan.
———————————
Itu sedikit gambaran yang biasa ada di belakang buku. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Saat pertamakali melihat buku itu, hati saya langsung berteriak: “LAGI?”
Begitulah, selalu orang asing yang tahu banyak dan kemudian sigap mendokumentasikan, entah dalam bentuk buku atau pun film. Padahal, Francois hanya menceritakan apa yang dia lihat. Menceritakan perasaannya, keheranannya serta tambahan pengetahuan dan wawasan saat tinggal bersama Suku Bajo.
Kenapa ya kita selalu ketinggalan. Apakah kurang sigap, atau kurang peka untuk mendokumentasikan kekayaan negeri sendiri?
Uuuuuh…..saya sendiri kemana? Dua orang mengajak membuat buku bersama. Satu tokoh LSM perempuan dan satu lagi dosen dan juga pejabat yang ahli tentang pulau-pulau kecil dan terluar. Tapi kok saya belum juga menangkap roh dari tawaran itu. Ya jadi gini deh, sibuk sak-karepe dewe. uuuuh!
Duuuh, sudah setua ini masih juga merindukan kamar sendiri, ditemani tv, musik blues, dan buku. Sepertinya sesekali saya masih merindukan kebebasan lama.
Hmmm….padahal saat itu kegiatan di akhir pekan cuma mencuci baju, membersihkan kamar, mandi, keramas, trus bersantai sambil membaca buku dan mendengarkan musik. Menikmati kesenangan dan terkadang kesedihan juga, sendiri……ooow
MESKI umurku sudah mengalir sampai berpuluh-puluh tahun, tapi kok rasanya masih jauh dari dewasa, waduuuh!
Cerita lainnya: Putri kecilku yang sekarang duduk di TKB ikut marching band. Tadinya dia bawa drum, tapi kemudian dipilih menjadi mayoret.
Senang? Saya belum tahu. Awalnya sih harus dirayu para guru. Cukup lama dia menolak, karena menurut dia, kalau jadi mayoret — sering dia salah sebut menjadi kabaret — tidak bermain musik.
“Aku gak mau mama, nanti aku gak mukul drum,” begitu katanya.
“Ya sudah, coba saja dulu, nanti kalau tidak asyik, bilang sama bu guru; aku gak mau, mau balik main drum,” saran saya.
Entah bagaimana anakku tiba-tiba mau menjadi mayoret. Bangganya, saat melihat dia memberi aba-aba dan memutar tongkat dalam pertunjukkan di sebuah kantor pemasaran perumahan.
Anakku sudah besar, dan saya jadi senyum-senyum sendiri.
Gurunya bilang, banyak yang meminta marching band TK tempat putri kecilku sekolah untuk pentas. Tapi belum bisa dipenuhi karena takut anak-anak kecapaian. Hanya saja, Desember nanti, mereka dijadwal akan tampil di mal.
Anakku sih cuek saja. Dia juga masa bodoh saat bercerita sambil lalu bahwa dia disuruh ikut lomba menyanyi di Porseni TK bulan depan.
Mamanya yang norak berat. Rasanya bangga dan takjub melihat si putri kecil sudah kian besar dan punya kegiatan sendiri. Tapi kadang pusing juga kalau nakalnya dia lagi kumat hi hi
Semarang-Solo senangnya…
Tidak tahu mengapa, sekarang saya lebih menghargai kesempatan bepergian.
Saya pikir inilah bulan paling lengkap…kap! Penghiburannya, mungkin saya sedang menabung kebahagiaan. Kata orang bijak: di balik kesedihan selalu mengintip kebahagiaan. Di balik kesenangan, selalu membayangi kesedihan. Uuuuh!
Tidur di sofa sambil memeluk putri kecilku, ternyata rasanya uuuuh…merupakan kebersamaan yang nikmat sekali. Saya ingin cuti…
Belakangan rasanya capeeeek sekali, mengurus berbagai pernak-pernik. Sampai-sampai terkadang kerja utama agak dikesampingkan. Apalagi sekarang sedang dikejar deadline tertentu.
Meski sudah pulang malam dan bangun pagi, waktu terasa tetap kurang. Yang satu belum di up-load, yang lain juga belum selesai. Yang satu belum didata, yang satu belum ditulis. Satu lagi belum dikirim, satu lagi belum wawancara. Ditambah lagi dua minggu belakangan padat bertemu orang untuk menjajaki kerjasama.
Duuuuh…tapi yang bikin saya ‘kumat’ berbagai tambal sulam untuk menjaga supaya setiap pagi tetap bisa berjalan. Terkadang saya berpikir, mungkin saya harus keluar dan berkonsentrasi di satu bidang.
Aaaaa…rasanya saya sedang mengeluh ya…? hahaha. Semua akan indah pada waktunya. Mudah-mudahan.
Terimakasih saudaraku yang baik. Seperti katamu, saya akan berjuang untuk meraih kemenangan tanpa trophy.
Kalau saya anak kecil, saya mungkin akan lari sambil berteriak, “Tidak mau…tidak mau…tidak mau!”
Tapi saya bukan anak kecil. Masa itu sudah lama lewat. Saya sekarang perempuan yang hampir memasuki 40 tahun.
Jadi terpaksa saya menahan keinginan untuk lari, tetap berdiri, sambil memasang peralatan siaran langsung yang namanya pun saya tidak tahu. Sepanjang penantian — sebenarnya hanya 15 menit — saya terus berusaha menahan gemetar. Kadang berhasil, tapi terus terang lebih banyak tidak berhasil.
Aduuuh… kenapa setelah hampir dua tahun, saya takjuga bisa menikmati?