Saya cemas kamu akan terluka…cemas warna tawamu akan berubah…
Ini air mata pertama saya untuk kamu, lelaki yang tau apa yang dia mau, lelaki baik yang sering membuat saya sedih, lelaki yang bisa membuat saya senang, meski hanya dengan kardus dan korek api…Gbu…
Kantor sedang menggairahkan
mudah-mudahan perubahan konsep
yang tengah dirancang bisa kian menyenangkan
dan saya merasa beruntung…
Senja adalah kita teman
kamu dan aku
tak perlu lagi kata-kata
(pulau sepa mengakhiri hari…Oktober 2009)
Kita - kamu dan aku, serta kata-kata yang hanya menggantung di udara…
hu uhuu…banyak buku yang mau dibeli, tapi mahal-mahal
waktu mahal, buku mahal…(cari gratisan aja deh)
hidup ternyata terus berjalan
meski terkadang kemarauku tetap merindukan hujan
banyak peristiwa dan kenangan
mampu mengubah cara pandang kita
mungkin saat sebuah rasa dipaksa mati
atau saat getas hati terus berjalan
sampai pada dasar yang sedasar-dasarnya
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api
WS Rendra
TERAKHIR saya berkomunikasi dengan Hairi tanggal 21 Maret 2009.
Via Telepon Hairi langsung bicara: “Panjang umur, baru juga kita ngomongin, kok sudah lama enggak datang.”
Dan sejak dua minggu lalu keinginan saya untuk berkunjung ke tempat Sugi dan Hairi terus muncul. Tapi seperti biasa, saya selalu menunda.
Pagi ini SMS mengejutkan saya terima:
“Inalilahiwainalilaihiroziun, telah berpulang ke rahmatullah saudara Hairi, Senin pukul 03.45 di RSK Darmais…”
Duuuh… kenapa kemarin saya menunda-nunda terus? Selamat jalan Hairi…
Putriku jelas sebuah keajaiban
saya rasa, Tuhan memang sudah mengatur demikian
Saat hati melemah, seringkali saya mendapat kekuatan hanya dengan memeluk dia
suatu hari saya memeluk dan berguman: “maafkan mama ya nak.”
Dengan mata bening dia menatap dan menjawab, “ya mama.”
Lalu dia melanjutkan: “Sebenarnya mama mau ngomong apa? gak apa-apa mama, aku sudah besar.”
Hiiiiksss…padahal umurnya baru 6 tahun 4 bulan.
Uuuh nak, semoga kamu selalu sehat jasmani dan rohani, jadi orang yang baik, bahagia, berguna buat diri sendiri, orang lain, dan sekelilingmu. Semoga kamu selalu berada di jalan Tuhan, Amin.
AKU lagi suka lagunya Pink yang ini…suka bangeet…
Pertama sih denger di Hardrock Bali, terus ternyata jadi pengiring trek combat terbaru…hmmm, gak ada yang kebetulan’kan…
Na Na Na Na Na Na Na
Na Na Na Na Na Na
Na Na Na Na Na Na Na
Na Na Na Na Na Na
I guess i just lost my husband
I don’t know where he went
So i’m gonna drink my money
I’m not gonna pay his rent (Nope)
I got a brand new attitude
And i’m gonna wear it tonight
I wanna get in trouble
I wanna start a fight
Na Na Na Na Na Na Na
I wanna start a fight
Na Na Na Na Na Na Na
I wanna start a fight
So so what?
I’m still a rock star
I got my rock moves
And i don’t need you
And guess what
I’m having more fun
And now that we’re done
I’m gonna show you tonight
I’m alright, I’m just fine
And you’re a tool
So so what?
I am a rockstar
I got my rock moves
And i don’t want you tonight
Uh, check my flow, uh
The waiter just checked my table
And gave to Jessica Simp- Shit!
I guess i’ll go sit with Tom boy
At least he’ll know how to hit
What if this song’s on the radio
Then somebody’s gonna die
I’m gonna get in trouble
My ex will start a fight
Na Na Na Na Na Na Na
He’s gonna start a fight
Na Na Na Na Na Na Na
We’re all gonna get in a fight!
So so what?
I’m still a rock star
I got my rock moves
And i don’t need you
And guess what
I’m having more fun
And now that we’re done
I’m gonna show you tonight
I’m alright, I’m just fine
And you’re a tool
So so what?
I am a rock star
I got my rock moves
And i don’t want you tonight
You weren’t fair
You never were
You weren’t all
But thats not fair
I gave you life
I gave my all
You weren’t there
You let me fall
So so what?
I’m still a rock star
I got my rock moves
And i don’t need you
And guess what
I’m having more fun
And now that we’re done (we’re done)
I’m gonna show you tonight
I’m alright(I’m alright),I’m just fine (I’m just fine)
And you’re a tool
So so what?
I am a rock star
I got my rock moves
And i don’t want you tonight
No No, No No
I Don’t want you tonight
You weren’t fair
I’m gonna show you tonight
I’m alright, I’m just fine
And you’re a tool
So so what?
I am a rock star
I got my rock moves
And i don’t want you tonight
Ba da da da da da
Semana Santa 1
LARANTUKA adalah kota sejuta lilin, kota doa yang tak pernah henti
didaraskan.
Malam Jumat Agung (10/4), ratapan yang menggambarkan kepedihan Maria
karena harus menyaksikan penderitaan Yesus anaknya sebelum dan saat
disalib berkumandang dalam hening.
Keheningan hanya ditemani gumaman doa dan jutaan pendar lilin dari ribuan
masyarakat setempat dan peziarah. Lilin juga berpendar di jalan sepanjang
2 km yang dilalui prosesi. Pun di depan rumah-rumah penduduk.
“Pandang dan lihatlah, apakah ada kedukaan seperti kedukaanku?” begitu
kira-kira sebagian bunyi dari ratapan Ovos Omnes yang mewakili kedukaan
Maria, Bunda Yesus.
Maka, malam itu suara jernih perempuan pembawa ratapan, memantul di
bukit-bukit yang ada di seberang pantai. Terasa magis, saat gema suara
seakan berpindah tempat dari kiri, tengah dan kanan pebukitan.
Ribuan orang berarak hingga mencapai panjang 1,5 km. Menyemut di antara
arakan peti Tuan Anna (Yesus) dan patung Tuan Ma (Bunda Maria). Hampir
seluruh peserta doa menggunakan baju hitam sebagai tanda berkabung atas
kematian Yesus.
Prosesi Jumat Agung atau Sesta Vera merupakan puncak dari rangkaian
perayaan Semana Santa (pekan suci) Paskah. Pagi sebelum puncak acara,
arak-arakan Tuan Menino (bayi Yesus) dilakukan lewat laut. Menggunakan
perahu dayung kecil, diikuti perahu-perahu lain. Jauh di samping dan
belakangnya, masyarakat mengantar menggunakan perahu motor. Pol Air dan
Tim SAR pun bersiaga karena derasnya arus laut yang disebut penduduk
setempat sebagai arus balik.
Di jalanan, masyarakat berjubel mengikuti perahu dari pinggiran pantai
hingga tempat perhentian di antara Kapela (kapel) Tuan Ma dan Tuan Anna.
Siang itu juga dilanjutkan dengan arakan Tuan Ma dan Tuan Anna menuju
Katedral. Dari titik inilah prosesi Sesta Vera dengan jutaan lilin
dimulai. Berangkat pukul 19.00 WIT, selesai pukul 01.00 WIT.
Rabu sebelumnya, masyarakat mengikuti prosesi Rabu Trewa. Tepat pukul
19.00, usai pelantunan doa dalam bahasa Portugis Kuno, para pemuda dan
anak-anak menabuhkan bebunyian yang berasal dari seretan dan pukulan seng.
Menjadi pertanda kegelisahaan menjelang kematian Yesus.
Kamis pagi, Kapela Tuan Ma dan Tuan Anna dibuka untuk umum. Masyarakat dan
peziarah rela antre berjam-jam untuk berdoa, berjalan dengan lutut,
mendekati dan mencium Tuan Ma dan Tuan Anna. Pada saat itu puji syukur tak
henti didaraskan, hingga keesokan harinya.
Semana Santa merupakan tradisi tua warisan Portugal yang sudah berusia
lebih dari 400 tahun. Di negara asalnya, tradisi ini sudah punah.
Ketekunan dan kekuatan doa yang dilantunkan di Larantuka menunjukkan
betapa besarnya pengharapan yang dimiliki masyarakat dan
para peziarah. Terkadang, kata-kata tak lagi cukup untuk melukiskan jiwa
dari kekuatan sebuah pengharapan.
Minggu, saya ‘berkenalan’ (saya lebih dulu kenal keluarga mereka) dengan suami istri yang sangat dekat dengan dunia politik dan TNI. Barangkali untuk beberapa sejarah yang masih juga tak jelas di negeri ini, mereka memegang kunci rahasia.
Dari percakapan dan canda, saya mendapat banyak informasi langsung dari ring 1. Tentang ambisi, percintaan, affair, dan dunia magis. Menyegarkan karena dalam hubungan manusia dengan manusia mereka benar-benar menyenangkan. Sangat sangat manusiawi.
Tapi soal politik? Sekali lagi saya angkat tangan. Entah saya yang penuh curiga, atau mungkin perasaan saya saja yang terlalu berprasangka. Saya tetap merasa tidak nyaman. Saya tak mau masuk dalam lingkaran itu, karena saya benar-benar tidak merasakan passion yang pas Bagi saya, dunia itu rawan pemanfaatan dan memanfaatkan.
Jadi saya putuskan menarik diri di batas luar. Mendengarkan saja kalau sudah bicara soal politik. Tapi kalau hal lain hahaha…menyenangkan. Saya seperti membaca buku-buku berkarakter Sydney Sheldon…hmmm…
Mencapai segala sesuatu memang tidak perlu ngoyo alias memaksakan segala hal. Pengorbanan memang perlu tapi kan harus menggunakan akal sehat. Terlalu banyak yang dikorbankan tapi hasil tidak sesuai, akhirnya yang muncul rasa sakit dan tidak terima. Itu yang terjadi pada beberapa temanku, baik dalam hal percintaan mau pun karir.
Sebagai penonton, saya belajar banyak…
INI film yang bisa membuat saya nonton berkali-kali tanpa bosan. Senang dengan acting Val Kilmer. Benar-benar senang.
Suka dengan persahabatan Doc Holiday (Val Kilmer) dan Wyatt Earp (Kurt Russel– yang jadi tokoh utama). Saya suka percakapan saat Doc terbaring sakit dan Wyatt mendapat tantangan duel dari musuhnya. Juga percakapan Doc dan Wyatt, saat Doc dirawat di sanatorium sampai akhir hayatnya.
Ala hollywoodnya, saya suka saat Doc tiba-tiba muncul menggantikan posisi duel Wyatt dan Johnny Ringo.
Coba deh tonton film ini. Film lama, kalau tidak salah dibuat tahun 1993 tapi sampai sekarang tetap bisa membuat saya terpesona.
Di pohon johar yang istirah
di musim penghujan yang basah
aku tumbuh dari rasa sakit masa lalu
Menyulam rumah berkabut
Karya S Yoga, diambil dari harian Kompas 18 Jan 09
Pergulatan Cinta dan Rasa Takut
SAYA tidak tahu, apakah ini kebetulan atau bukan. Tapi satu bulan ini banyak peristiwa yang berkutat pada kata bahagia dalam hidup pribadi saya. Mulai dari pertanyaan hingga berbagai keluhan teman, pun yang disampaikan tetangga menjelang subuh (?) beberapa waktu lalu.
Kemudian, saat saya memindahkan buku dari lantai satu ke atas, dan saat memindahkan lagi dari lantai ke lemari dalam rentang berbeda (hitungan hari dan minggu), satu buku terus menyita perhatian saya. Setelah selesai disusun, selalu ada ditumpukan atas. Tapi saat itu saya sedang dihinggapi keengganan membaca. Sampai sekitar lima hari lalu, lagi, buku itu ada di tempat tidur, (mungkin untuk sarana bermain putri kecilku), dan kembali menarik perhatian.
Kali ini saya sulit mengabaikan. Maka, mulailah saya membaca buku tersebut. Judulnya Pergulatan Cinta dan Rasa Takut, tulisan Dan Baker dan Cameron Stauth. Cinta? ya…ini bukan sekadar cinta antara dua manusia berbeda jenis. Tapi lebih luas lagi mencakup berbagai hubungan.
Dua hari membaca buku itu, saya merasa tertohok, berkali-kali rasanya perasaan dan hidup saya ditelanjangi. Sebagian pengetahuan yang dipaparkan mungkin sudah banyak diketahui orang. Namun, buku ini memberi makna yang jauh lebih mendasar.
Saya, yang dua minggu ini dihinggapi banyak perasaan, seolah ditampar, diajak mengubah persepsi, dan banyak hal lagi yang memaksa saya menelanjangi apa yang selama ini membuat saya takut dan selalu melarikan diri. Sulit mengungkapkan, tapi saya menulis ini, dengan harapan dapat membagi apa yang saya dapatkan. Di blog ini, saya hanya menulis sepenggal-sepenggal, tentu baru akan mengena jika Anda membaca seluruhnya.
Kulitas Kebahagiaan:
1. Cinta
Cinta dalam arti luas merupakan penawasr rasa takut dan langkah pertama menuju kebahagiaan.
2. Optimisme
Optimisme adalah menyadarisemakin menyakitkan peristiwa yang kita alami, semakinmendalam pelajaran yang dapat kita petik.
3. Keberanian
Inilah senjata paling ampuh untuk mengalahkan rasa takut. Keberanian adalah kualitas kita untuk terus berjuang.
4. Perasaan Bebas
Kebebasan adalah pilihan, dan pilihanlah nyang membuat diri kita manusiawi
5. Proaktif
Orang yang bahagia berpartisipasi untuk mengubah nasib mereka sendiri. Mereka tidak menanti peristiwa atau orang lain untuk membuatr mereka bahagia.
6. Rasa aman
Orang bahagia menyadari tidak ada yang abadi. Mereka menyukai keadaan diri sendiri apa adanya.
7. Kesehatan
Kebahagiaan dan kesehatan adalah dua hal yang saling bergantung.
8. Spiritualitas
Orang yang bahagia tidak takut menjalani hal-hal baru dalam kehidupan mereka.
9. Altruisme
Orang yang tidak bahagia biasanya terobsesi dengan diri sendiri, sehingga tidak sempat memperhatikan kebutuhan orang lain. Altruistis menjalin kebersamaan Anda dengan orang lain dan memberikan Anda tujuan hidup.
10. Perspektif
Orang yang tidak bahagia cenderung melihat segala sesuatu hitam putih. Orang yang bahagia bisa melihat sisi abu-abu. Mereka tahu bagaimana memprioritaskan berbagai masalah dan mengubah menjadi sejumlah kemungkinan.
11. Humor
Merupakan pergeseran persepsi yang memberkali seseorang dengan keberanian.
11. Tujuan Hidup
Orang bagahia tahu apa tujuan hidupnya.
“Kebahagiaan bukan berarti semuanya baik-baik saja. Kebahagiaan adalah kerja keras. Keberanian merupakan salah satu prasyarat kebahagiaan. Kata orang, keberanian bukan berarti menghapus rasa takut, tetapi kemampuan untuk bertindak walau pun merasa takut. Orang yang bahagia tidak melawan ketidaksempurnaan, mereka mengalahkan rasa takut. Kita mengubah nasib kita setiap hari, dengan apa yang kita lakukan.”
Lima Perangkap Kebahagiaan:
1. Berusaha membeli kebahagiaan
2. Berusaha menemukan kebahagiaan dalam kesenangan
3. Berusaha merasa bahagia dengan melupakan masa lalu
4. Berusaha merasa bahagia dengan memperbaiki segala kekurangan
5. Berusaha memaksakan kebahagiaan
Empat keyakinan umum yang bisa sangat mematikan. Karena itu, jika Anda mengalami perasaan ini, segera alihkan atau ubah persepsi Anda ke arah lebih positif:
1. Aku adalah korban
2. Aku berhak untuk menuntut lebih banyak
3. Aku akan diselamatkan
4. Orang lain yang harus disalahkan
KEMARIN saya berbincang dengan dokter kantor yang juga psikiater. Perpincangan berlanjut ke masalah hipnosis. Dalam hal penyembuhan, tentu dokter ini sudah berpengalaman. Juga praktek hipnosis.
Dari perbincangan iseng tadi, saya bertanya, “Boleh dong ilmu hipnosisnya dicoba?”
“Boleh, boleh,” jawab dokter tadi.
Asistennya memberitahu, ternyata sudah banyak teman di kantor yang minta bukti keajaiban hipnosis. Kisahnya, ada yang lupa nama sendiri, ada yang tak bisa melepas kaitan tangan, ada pula yang tak kuat mengangkat botol.
Maka, saya berniat mencoba. Apalagi dokter itu bilang, kalau saya sudah berhasil fokus dan dihipnosis, ada keuntungan tambahan, yaitu akan lebih kebal pada kejahatan dengan dasar hipnosis. Waaah, boleh juga tuh, pikir saya.
Jadilah saya memasuki tahap hipnosis. Ada proses saat dokter mengatakan saya akan lupa nama sendiri. Saya juga akan lupa siapa saya sebenarnya. Saya diminta mengosongkan pikiran sekaligus fokus melupakan diri saya. Maka, saya membayangkan diri tersesat, tidak ingat apa-apa lagi, kosong…kosong.
Saat disuruh membuka mata, dokter itu bertanya, siapa nama dirinya, dan saya jawab betul. Ketika ditanya siapa saya? Astaga…saya tetap ingat, menyebut nama dengan lancar.
Lalu, dicobalah sekali lagi. Kali ini saya disuruh melupakan angka dua. Sekali lagi, saya mengosongkan pikiran. Saya benar-benar berusaha keras untuk berkonsentrasi, mematuhi semua perintah sang dokter. Lalu saya disuruh membuka mata, dan diminta menghitung 1-10.
Saya mulai menghitung, lalu berhenti pada angka satu. Dengan tidak enak hati saya berkata, “Tapi dokter saya tetap ingat angka dua.”
Sekali lagi proses hipnosis gagal . Dan akhirnya disudahi. Dokter itu bilang, saya kurang konsentrasi. Terus dia menjelaskan, di dunia ini, ada 20% orang yang mudah dihipnosis, 70% sedang-sedang saja, dan 10% sulit dihipnosis karena otak kiri terlalu aktif.
Saya pikir, mungkin saya ada di antara 70% dan 10% alias di antara yang sedang-sedang dan sulit.
Tapi masa iya sih? Selama ini saya selalu berpikir sebagai orang yang gampang di hipnosis. Bagaimana tidak? Saya ini mudah terpengaruh dengan histeria masa. Saat peristiwa Mei 1998, begitu ada teriakan dan orang berlarian, saya langsung ikut ambil langkah seribu. Benar itu, jadi mungkin kemarin itu saya memang kurang fokus. Dokter itu berjanji, akan mencoba lagi.
SUATU hari, saya mendapat pertanyaan, apa beda makna senang dan bahagia?
Trus berlanjut peristiwa dan keadaan seperti apa yang pernah membuat saya senang dan bahagia?
Nah, untuk pertanyaan kedua, saya terpaksa termenung lamaaaa sekali. Apa ya? Gawat nih…apa ya perasaan yang paling menonjol dalam kehidupan saya? Saya ingat perasaan takjub saat pertamakali melihat putri kecilku menghirup udara. Perasaan ajaib saat pertamakali melihat dia digendong suster dan disodorkan kepada saya, ibunya.
Selanjutnya? Terlepas dari segala keajaiban yang terus diberikan putri kecilku, apa ya? Saya masih termenung. Bukan tidak ada yang bahagia dan tidak senang. Bukan pula ada kesedihan. Lalu apa? hahaha…
Itu yang saya bingung. Sebingung saat diajak teman membaca tarot dan disuruh melontarkan pertanyaan pada ‘tukang’ tarot yang sudah menunggu di seberang meja. “Apa yang harus saya tanyakan? ”
“Masalahmu to mbak?” kata teman saya tadi.
“Waduuuh, apa ya?”
Akhirnya saya bilang, ya sudah liat saja semua hahaha.
Orang Bajo, Suku Pengembara Laut, Pengalaman Seorang Antropolog
Penulis Francois-Robert Zacot
Penyunting: Atika Suri Fanani
Penerjemah: Fida Muljono-Larue & Ida Budi Pranoto
Penerbit : Mizan
Silakan buka sabuku.com
Buku ini memadukan kisah petualangan dan studi ilmiah seorang antropolog Prancis di desa orang Bajo yang terpencil di Sulawesi Utara. Akibat keterpencilan mereka sepanjang sejarah, orang Bajo membawa jejak-jejak perpindahan penduduk yang menghuni Asia Tenggara sekitar dua ribu tahun yang lalu. Membaca buku ini kita bisa mengatahui bagaimana orang Bajo melahirkan, mendidik anak, bahkan membuang hajat. Diuraikan pula soal kepercayaan mereka terhadap setan-setan.
———————————
Itu sedikit gambaran yang biasa ada di belakang buku. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Saat pertamakali melihat buku itu, hati saya langsung berteriak: “LAGI?”
Begitulah, selalu orang asing yang tahu banyak dan kemudian sigap mendokumentasikan, entah dalam bentuk buku atau pun film. Padahal, Francois hanya menceritakan apa yang dia lihat. Menceritakan perasaannya, keheranannya serta tambahan pengetahuan dan wawasan saat tinggal bersama Suku Bajo.
Kenapa ya kita selalu ketinggalan. Apakah kurang sigap, atau kurang peka untuk mendokumentasikan kekayaan negeri sendiri?
Uuuuuh…..saya sendiri kemana? Dua orang mengajak membuat buku bersama. Satu tokoh LSM perempuan dan satu lagi dosen dan juga pejabat yang ahli tentang pulau-pulau kecil dan terluar. Tapi kok saya belum juga menangkap roh dari tawaran itu. Ya jadi gini deh, sibuk sak-karepe dewe. uuuuh!
Duuuh, sudah setua ini masih juga merindukan kamar sendiri, ditemani tv, musik blues, dan buku. Sepertinya sesekali saya masih merindukan kebebasan lama.
Hmmm….padahal saat itu kegiatan di akhir pekan cuma mencuci baju, membersihkan kamar, mandi, keramas, trus bersantai sambil membaca buku dan mendengarkan musik. Menikmati kesenangan dan terkadang kesedihan juga, sendiri……ooow
Siapa Lebih Baik, Macan atau Naga?
Judul : Chindia
Penulis : Pete Engardio
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer, 2008
Tebal : 446 hlm
Keseimbangan kekuatan akan bergeser ke timur, saat China dan India berevolusi.
———————————————
MAJALAH Business Week edisi terbaru membahas Jalan Sutera abad 21. China dan India-lah yang dimaksud. Diramalkan, dua negara itu akan menguasai perdagangan seperti halnya pada abad 25-21 SM. Diprediksi, China dan India akan mengambil alih kekuasaan yang selama ini dimonopoli Barat.
Dua negara itu dibahas Pete Engardio, penulis buku Chindia yang juga merupakan penulis senior di majalah Business Week.
Istilah Chindia (China dan India) dikutip Engardio dari pernyataan politikus India, Jairam Ramesh. Kemampuan, kelemahan, metode kebangkitan, budaya, politik, manajemen, dan banyak sisi lain yang ada di dua negara dibahas di buku ini.
Macan atau naga?
Siapa yang lebih kuat, macan (India) atau naga (China)? Lewat buku ini, Endargio mengupas satu demi satu kekuatan dan kelemahan Chindia. Pelaku ekonomi dan industri Barat kerap menyebut China dan India dengan istilah ‘kekacauan dari Timur’.
China dituliskan unggul di banyak bidang yang berkaitan dengan manufaktur massal. Namun, India unggul dalam industri canggih dan peranti lunak yang sampai sekarang terus tumbuh mengesankan. Di bidang inovasi, China kalah dengan India. Negara itu masih berkutat pada pencurian intelektual. Di India, kesuksesan bisnis sepenuhnya mengenai belajar mengelola dengan adanya keterbatasan dan hambatan fisik.
Endargio menjabarkan keduanya sama-sama berhasil meluluskan setengah juta insinyur dan ilmuwan setiap tahun. Bandingkan dengan AS yang hanya menghasilkan 70 ribu insinyur dan ilmuwan per tahunnya.
Faktanya, kedua negara itu memang tumbuh mencengangkan. Selama dua dekade ekonomi China tumbuh 9,5% per tahun, sedangkan India 6% per tahun. Dengan potensi penduduk usia muda dan tabungan besar, Chindia memiliki dasar untuk terus tumbuh.
Bila kedua negara berhasil mencegah terjadinya bencana akibat berbagai hambatan dan salah urus, tulis Endargio, tiga dekade ke depan India bisa menyaingi Jerman sebagai perekonomian terbesar ketiga di dunia. Pada pertengahan abad, China bisa mengambil alih AS sebagai nomor 1. Setelah itu, China dan India merupakan setengah dari apa yang dihasilkan dunia (hlm 20).
Bahkan proyeksi perusahaan konsultasi Keystone-India yang dilansir kelompok puncak Ernst & Young menyebutkan ada kemungkinan India dalam jangka panjang akan melampaui China. Proyeksi itu didasarkan pada gambaran kependudukan, efisiensi modal, pertumbuhan investasi, pertumbuhan wirausahawan baru (pengusaha India mulai memasuki daftar orang-orang terkaya di dunia), dan produktivitas yang lebih tinggi.
Jika India dapat menumbuhkan kepesatan ekonomi, tak mustahil akan jadi negara pertama yang menggunakan kepandaiannya, bukan sumber daya alam atau otot telanjang para buruh (hlm 60).
Tapi tentu tak mudah. Apalagi sang naga mulai menyadari kelemahannya. Belakangan sektor perbankan mulai dibenahi dan para pengusaha mulai menyadari pentingnya memperbaiki brand. Dalam buku ini, diberikan contoh, gambaran, dan banyak data yang menunjang.
Kebangkitan perempuan
Kebangkitan Chindia tak semata pada masalah serbuan ke luar, tetapi juga besarnya pasar yang bisa digarap di kedua negara tersebut.
Engardio memaparkan contoh pemasaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar. Momentumnya antara lain mengambil kebangkitan perempuan India. Mereka disebut sebagai konsumen masa depan.
Hasil survei yang dilakukan Grey Global Group (hlm 186) menyebutkan 51% perempuan di kota besar menginginkan rumah dan mobil sendiri. Selain itu, 67% perempuan menolak tradisi lama yang mengharuskan perempuan ikut suami dan merawat mertua, tidak boleh orang tua sendiri. Mereka justru berencana merawat orang tua sendiri dan itu berarti membutuhkan uang.
Perubahan itu dimanfaatkan Unilever untuk membuat iklan produk kecantikan Fair & Lovely. Digambarkan seorang perempuan pulang dan melihat orang tuanya kehabisan gula untuk membuat kopi. Mereka tak sanggup membeli. Kemudian si gadis menjadi pramugari setelah menggunakan produk Fair & Lovely yang membantu membuatnya tampil cantik.
Ada juga iklan Whirpool yang menggambarkan suami muda membantu mencuci pakaian keluarga. Bagi pemasar, perubahan sosial di India itu menawarkan peluang baru untuk dieksploitasi (hlm 189).
Faktor X
Sebenarnya, banyak fakta dan data yang diungkap Engardio, sudah tidak asing lagi. Terutama tentang kebangkitan dan kesuksesan China yang sudah sering diperbincangkan dalam buku maupun artikel. Apalagi, dalam beberapa bahasan, ia mengambil data dan mengutip fakta yang sudah diungkap di Business Week.
Namun, komparasi penulisan dan sorotan masalah yang sama dari beberapa sudut pandang berbeda antara China dan India bisa memberi wawasan dan perspektif berbeda. Tentu selalu ada faktor x yang bisa mengacaukan teori dan prediksi. Siapa yang bisa tahu perubahan seperti apa yang akan dibawa dari krisis ekonomi yang terjadi dan masih akan berlanjut belakangan ini?
Lepas dari segala fakta dan prediksi, buku ini setidaknya bisa memberi gambaran luas tentang kekuatan dan kelemahan China dan India. Menambah wawasan pada masyarakat umum dan bisa melengkapi gambaran bagi siapa saja yang barangkali ingin bergabung atau bahkan ambil bagian dari ‘demam China dan India.’
Diambil dari Media Indonesia, 29 November 2008
Judul : Rahasia Sukses Ekonomi China
Penulis : James Kynge
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 310 hlm
Tertarik beli? Silakan klik sabuku.com
Biarkan China terlelap. Sebab, jika China terbangun, ia akan mengguncang dunia. Napoleon Bonaparte pernah membuat pernyataan seperti itu. Terlepas dari benar atau tidak, kenyataannya kini kebangkitan China membuat takut banyak pemimpin negara, termasuk adikuasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS).
Dalam bukunya Rahasia Sukses Ekonomi Cina, James Kynge mengungkapkan dengan jelas dan rinci berbagai terkaman China di bidang ekonomi yang akhirnya menyebabkan keterpurukan negara-negara lain. Industri ambruk dan pengangguran pun meningkat. Mulai dari industri elektronik, tekstil, hingga kerajinan kecil.
Kekuatan China di bidang ekonomi sudah sering dibahas dalam bentuk buku maupun tulisan di media massa. Namun, buku ini akan memberi pemahaman berbeda. Mulai dari detail kejadian, keterpurukan, kekuatan, hingga berbagai dampak ekspansi ekonomi China. Bukan hanya pada negara yang diincar, melainkan juga kondisi di China sendiri. Kekacauan ekonomi, pengaruh politik, hingga kerusakan lingkungan pada akhirnya menjadi masalah global.
Kynge mampu menjabarkan dengan persepsi berbeda dan menggali fakta tersembunyi yang selama ini lebih sering terabaikan. Ia mempunyai akses luas yang sudah dibangun sejak menjadi mahasiswa di ‘Negeri Tirai Bambu’ tersebut. Tuntutan pekerjaan membuat aksesnya kian berkembang.
Ia meraih gelar MA dalam bahasa China dan Jepang pada 1985 di Edinburgh University, Skotlandia. Juga, diploma bahasa China di Shandong University, Jinan, China. Pada 1989, Kynge meliput langsung pembantaian Tiananmen. Kemudian, pada 1991, ia mengembara ke Mongolia dan melahirkan buku Nomads Among Stones. Ia bergabung dengan Reuters pada 1993 dan menjadi koresponden Financial Times untuk Asia Tenggara sejak 1996.
Kynge menetap di Beijing pada 1998 dan menjabat Kepala Kantor Cabang China. Krena itu ia dapat menyaksikan dari dekat transformasi ekonomi China yang menakjubkan. Ia juga menjadi kontributor tetap BBC, CNN, dan masih banyak lagi.
Kini, Kynge bersama istri dan anaknya tinggal di Beijing dan menjabat sebagai Chief Representative Pearson Group yang menangani seluruh kepentingan grup tersebut di China. Pengalaman dan keterlibatannya di negeri tersebut memberi kekuatan tersendiri pada buku ini.
Kekuatan Ekonomi China mencatat angka pertumbuhan tahunan menakjubkan, yakni 9,4%. Tertinggi dari pertumbuhan perekonomian mana pun di dunia.
Menjelang 2005, sekitar 350 juta orang memiliki telepon genggam di China dan 100 juta orang mengakses internet. Padahal, pada 1978 nyaris belum ada orang yang memiliki telepon pribadi.
Pertumbuhan itu menggoda investor-investor asing. Mereka pun berlomba memburu 1 miliar pasar (penduduk China) yang belum tergarap. Honda, Yamaha, Mitsubishi, Volkswagen, IBM, dan masih banyak lagi melakukan ekspansi ke negara itu. Namun, pada kenyataannya tidak mudah.
Pembatasan-pembatasan pemerintah China membuat mereka tidak bebas mendirikan pabrik. Ada ketentuan yang mengharuskan membentuk usaha gabungan dengan mitra usaha milik pemerintah. Pemerintah juga menuntut adanya transfer teknologi yang tidak diimbangi dengan perlindungan hak cipta intelektual.
Di samping itu, ada ketentuan yang tidak mengizinkan perusahaan asing mengontrol pemasaran dan jaringan pemasok. Meski sulit, iming-iming 1 miliar pasar sungguh sulit ditolak. Maka, rencana pun tetap berjalan.
Yamaha, misalnya, melakukan join venture dengan perusahaan China bernama Jianshe. Awalnya berjalan lancar, sampai kemudian manajemen Yamaha tersentak ketika berhasil mengeluarkan model terbarunya Jinbao empat tak 100 ml pada 1995. Dalam beberapa bulan saja, replika Jinbao sudah dibuat 36 pabrik di seluruh negeri itu. Jiplakannya nyaris tidak berbeda dengan yang asli. Namun, Jinbao Yamaha dijual 18 ribu rmb, sedangkan yang palsu hanya 6.000 rmb.
Kasus serupa juga menimpa Volkswagen yang bermitra dengan SAIC. Pada 1990-an, mobil Jetta keluaran Volkswagen begitu populer di China.
Setelah 33 bulan diluncurkan, Chery Automobil, perusahaan China di tepian Sungai Yangtze mengeluarkan produk Chery yang amat mirip dengan Jetta. Kecurigaan pun meruap. Apalagi salah satu eksekutif puncak di Chery Automobile pernah terlibat dalam pembuatan Jetta di China untuk anak perusahaan Volkswagen, Audi. Kasus itu bergulir hingga berbentuk tuntutan. Namun, akhirnya dibatalkan karena sistem peradilan di China tak memungkinkan.
Pelanggaran hak intelektual seperti itu terus berlangsung di segala bidang. Buku, DVD, dan alat elektronik bajakan dengan merek dibuat hampir sama beredar di mana-mana. Berbagai perkiraan menyatakan perusahaan AS, Jepang, dan Eropa bisa jadi telah kehilangan lebih dari US$60 miliar setahun karena pembajakan di China. Jika benar, demikian ditulis Kynge, pencurian hak atas kekayaan intelektual yang terjadi melebihi total aliran investasi asing yang masuk ke China pada 2004, yaitu sekitar US$56 miliar.
Kondisi seperti itu memusingkan banyak perusahaan di dunia. Ancaman dari China tidak hanya barang palsu dengan kualitas di bawah standar, tapi juga lebih pada barang palsu dengan kualitas menyamai. Tak bisa dipungkiri — terlepas dari cara — China tengah menaiki tangga teknologi dengan sangat cepat. Kebangkitan itu menurut Kynge, lebih banyak didukung perdagangan bukan riset.
Dalam bukunya, Kynge mengawali kebangkitan China jauh sebelum negeri ini dibicarakan banyak negara. Serbuan ke Jerman dimulai di pabrik baja ThyssenKrupp di Dortmund yang diakuisisi China sekitar 2000.
Akuisisi itu diikuti serbuan 1.000 pekerja China yang bekerja dengan sangat tekun pada pagi, siang, dan malam tanpa hari libur. Hanya dalam waktu dua tahun, pembongkaran dan pemindahan mesin perusahaan telah diselesaikan. China terus bergerak memadukan tenaga buruh murah dan pabrik modern.
Jerman kini mengalami krisis pekerjaan terparah sejak sebelum perang dunia kedua meletus. Sekitar 12% atau 5 juta orang menganggur. Di semua negeri Uni Eropa, tingkat pengangguran mencapai 9%.
Di Eropa, Kynge menceritakan keruntuhan industri tekstil di Prato, Italia, pusat pertekstilan Eropa tertua lebih dari 700 tahun. Saat ini, beberapa perusahaan tua berada di ujung tanduk. Penyebabnya, jika dulu hanya satu bagian proses pembuatan kain atau pun pakaian yang dikerjakan di China, sekarang hampir setiap tahap produksi dipindahkan ke luar negeri. Bahkan beberapa pemilik merek, butik, dan rumah mode besar juga melakukan outsourcing ke ‘Negeri Tirai Bambu’. China terus bergerak. Kynge menyebutkan negara itu tengah memenuhi rasa lapar yang tak berkesudahan. Di Amerika, Walmart dipenuhi barang-barang China.
Dominasi itu meruntuhkan banyak perusahaan besar dan kecil. Dalam sebuah hasil survei, — Kynge mengutip dengar pendapat Bruce Cain, Presiden Perusahaan Xcel Mold and Machine di Canton, Ohio, dengan kongres Amerika Serikat — dalam kurun waktu 1 Mei 2003 hingga September 2004 ada 180 pamflet lelang atau rata-rata satu pamflet setiap hari. Yang mencemaskan, penutupan perusahaan biasanya disebabkan saingan dari China yang tiba-tiba menawarkan harga jauh lebih murah.
Kelemahan Begitulah rasa lapar China menghantam dunia. Membangkrutkan perusahaan-perusahaan kecil dan mulai mengakuisisi perusahaan-perusahaan besar, termasuk IBM.
Kebangkitan ekonomi China memang luar biasa. Namun, di balik semua kekuatan itu membuntuti berbagai kelemahan. Pencurian hak intelektual, kelemahan sistem ekonomi yang kini mulai memusingkan pemerintah China sendiri, dan kehidupan sosial yang memunculkan sisi hero ekonomi yang patut dikagumi serta berbagai situasi memprihatinkan akibat kebijakan pemerintah yang terus memburu angka pertumbuhan.
Dari segi lingkungan, kondisi China luar biasa hancur. Pencemaran air dan udara tak terkendali. Sungai Kuning kini kering. Sejak 1985, air sungai tersebut tak mampu lagi mencapai laut. Dari daftar 20 kota paling tercemar di dunia, 16 di antaranya terdapat di China. China menjadi bengkel dunia, sekaligus tempat sampah dunia.
Daniel Jacob, profesor kimia atmosferik dari Harvard, melacak bubungan udara kotor di sebuah titik di atas New England. Hasilnya, sampel menunjukkan polusi yang terjadi berasal dari China. Penelitian lain menunjukkan China menyemburkan merkuri 600 ton ke udara setiap tahunnya. Itu berarti hampir seperempat emisi merkuri sedunia.
Sementara itu, hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia, termasuk di Indonesia terus ditebang. Sebagian untuk memenuhi rasa lapar China yang tak bisa lagi memenuhi produksi kayu dari dalam negeri sendiri.
Pada 2002, China mengimpor 2,6 juta kubik meter kayu Indonesia lebih banyak daripada ekspor kayu resmi Indonesia. Worldwide Fund for Nature memperkirakan 44% kayu yang diimpor China adalah hasil penebangan liar dari berbagai negara.
Banyak sisi lain yang diungkapkan Kynge dalam buku yang disusun berdasarkan pengamatan langsung dan riset selama satu setengah tahun.
Gabungan dari itu membuat buku ini sangat layak dibaca. Memberi pemahaman dan persepsi berbeda. Menyodorkan dua sisi China, yakni tentang kekuatan pertumbuhan ekonomi yang menakjubkan dan dampak yang selama ini terabaikan.
Pada akhir penulisan di bahasan lingkungan, Kynge mengatakan di dunia yang saling terhubung ini, masalah lingkungan di sebuah negara sebesar China tak bisa lagi dianggap sebagai masalah domestik. Besar kemungkinan, ketegangan internasional akan terus meningkat karena kebutuhan China akan sumber daya asing dan perusakan lingkungan yang sampai sekarang masih terus berlangsung.
Diambil dari Media Indonesia/28 Juli 2007
JUDUL itu saya ambil dari Media Indonesia Minggu rubrik Life & Family, karena kebetulan cocok dengan cerita ini.
Mumpung masih ingat, saya ingin bercerita lagi bagian dari seminar tentang Pola Asuh Anak bersama Gloraia Adhitya yang pernahg saya ceritakan sebelumnya.
Psikolog ini memberi contoh satu kasus lagi yang menurut saya sangat perlu direnungkan oleh para ibu, terutama yang memiliki remaja putri.
Dikisahkan, seorang ibu rumah tangga di kompleks perumahan tempat dia tinggal, suatu hari datang sambil bercucuran airmata. Ibu itu bercerita hatinya serasa remuk redam usai bersitegang dengan putri remajanya. Kalau jarum jam bisa diputar ulang, katanya, dia akan memulai dari awal dan memperbaiki segala kesalahan yang dia buat.
Cerita itu bermula dari ketidaksengajaan, ketika sang ibu (I) iseng memeriksa tas putrinya. Dia terkejut ketika menemukan alat kontrasepsi kondom. Didatangi anaknya (P), dan dia bertanya:
(I) : Nak, kamu masih perawan kan?
(P): Apa peduli ibu? Saya bukan anak kecil lagi dan ibu tidak berhak bertanya seperti itu.
Si Ibu sungguh terperangah. Hatinya pedih saat menyaksikan putrinya berjalan menuju kamar tidur sambil membanting pintu. Beberapa saat kemudian, dia mendatangi kamar putrinya dan mengetok pintu.
(I): Nak, tolong buka pintu. Ibu bertanya demikian karena ibu sayang kamu.
Pintu terbuka, sang anak menatap ibunya dan menjawab:
(P) Sayang? Apa tidak salajh ibu berkata demikian. Apa peduli ibu sekarang? Kemana ibu waktu saya ketakutan karena mendapat menstruasi pertamakali? Saat dalam ketakutan saya bertanya pada ibu yang baru pulang kerja, ibu tidak peduli. Duduk menselonjorkan kaki dan berkata, “aduuuh, sudahlah ibu capek.”
Kemana ibu waktu saya takut hamil ketika mendapat ciuman pertamakali. Jadi sekarang ibu sudah terlambat untuk mempedulikan hal-hal seperti itu.
Sang ibu kembali terperangah. Tak berdaya ketika anaknya sekali lagi membanting pintu. Airmatanya bercucuran. Dia merasa hidupnya menjadi sia-sia. Padahal, kisah Gloria, kekayaan tak kurang apa pun. Mobil mewah di garasinya saat itu ada lima buah. Tapi itu semua tak mampu menghapus penyesalannya.
“Kalau jarum jam bisa diputar ulang, saya tak akan peduli dengan kekayaan. Saya ingin menebus kesalahan,” Gloria menirukan apa yang dia dengar.
Peserta seminar pagi itudiam. Suasana hening mendengar cerita tersebut. Saya berbagi di blog ini, untuk menjadi bahan perenungan buat kita semua.
SUATU hari saya berbincang dengan seorang ibu rumah tangga yang juga aktivis anak. Setelah bicara kiri-kanan, akhirnya tiba pada pertanyaan bolehkah anak dipukul?
Seorang teman saya mengatakan, “Bisa dilaporkan dan kena UU kekerasan terhadap anak.”
Teman saya yang ibu rumah tangga dan juga aktivis anak berkomentar, “Gak iso (tidak bisa). Masak ibu memukul pantat anak dengan maksud mendidik dikenai pasal kekerasan. Jangan memaknai terlalu telanjang,” cetusnya.
Sabtu 1 November lalu, saya diwajibkan hadir di seminar yang diadakan sekolah tempat putri kecil saya yang sekarang kelas TKB. Tema seminar itu tentang pengaruh pola asuh pada anak. Pembicaranya Gloria Adhitya, psikolog, dosen UI, dan juga menangani konseling dibeberapa sekolah swasta.
Pada sesi tanya jawab, seorang ibu bertanya, “bolehkah anak dipukul?”
Sebelum menjawab, Gloria menjelaskan bahwa arti pukulan tidak hanya dilakukan pada fisik, tapi juga bisa lewat kata-kata. Keduanya sama berbahaya.
Kemudian dia memberi contoh kasus saat dia melakukan konseling pada siswa (putra) sebuah SMA swasta. Beberapa kali konseling, Gloria harus aktif bertanya dan menerima jawaban seadanya. Tapi akhirnya suasana menjadi cair. Sampai suatu hari anak itu sebut saja A (Gloria G) menceritakan isi hatinya dengan penuh emosi.
Gloria berkisah, saat itu saya bertanya:
G: Apa cita-citamu?
A: Kuliah di jurusan yang bisa cepat dapat uang
G: Buat apa uangnya?
A: Buat membuat sesuatu yang bisa dilihat ayah dan membuat ayah menyesal karena pernah melakukan hal-hal seperti itu pada saya. Setelah itu, saya akan pergi meninggalkan ayah saya.
G: Memangnya apa yang ayahmu buat?
A: Hampir setiap menjemput sekolah (ayah dan ibunya sudah bercerai) ayah selalu memaki-maki. Saya bosan dan sakit hati.
G: Apa yang ayahmu katakan?
A: Kamu goblok seperti ibumu. Dasar keturunan goblok!
Sang ayah, papar Gloria, dalam emosinya lupa kalau anak dibuat oleh dua orang, jadi keturunan dua orang itu juga. “Tapi inti yang ingin saya katakan, terkadang pukulan dengan kata-kata dampaknya jauh lebih hebat dari hukuman fisik yang dilakukan dengan kasih sayang.”
Jadi bolehkan anak dipukul (tentu dalam artian fisik?) Jawab Gloria, Boleh!
Wah sebenarnya saya agak terkejut dan merasa agak dibela karena beberapa hari lalu, saya terpaksa menjewer telinga putri kecil saya, dan kemudian menyesal berhari-hari dan sepanjang hari itu bad mood. Saya juga agak terkejut, karena beberapa psikolog yang pernah berbicara dalam seminar atau perbincangan langsung, hampir semuanya mengatakan “Tidak boleh.”
Lalu, kenapa Gloria mengatakan demikian?
Begini kelanjutannya:
“Boleh, tapi harus dengan berbagai persyaratan dan kondisi tertentu. Misalnya anak bebal, sudah beberapakali diberitahu tetapi tetap melakukan dan dilakukan dengan sengaja. Jika demikian, anak boleh dipukul. Hanya saja, jangan sembarang memukul, karena Tuhan sudah memberikan dua bantalan empuk (pantat maksudnya) untuk memberi didikan pada anak kita,” jelasnya.
Gloria tidak menyarankan memukul menggunakan tangan. Karena, menurut dia, tangan menyalurkan langsung emosi orang tua pada anak. Saat memukul, orang tua sebaiknya menggunakan perantara seperti penggaris, bekas kemoceng atau apapun yang tidak terlalu menyakitkan tapi bisa memberi didikan.
Alat perantara itu, katanya, sebaiknya hanya satu dan harus diletakkan jauh dari jangkauan orang tua itu sendiri. Apa maksudnya? Supaya orang tua juga terus diingatkan bahwa memukul hanya bisa dilakukan bila memang sudah benar-benar harus dilakukan. Juga memberi dampak psikologis pada anak bahwa betapa sakit dan terpaksanya orang tua melakukan hal itu.
Lalu, seberapa keras orang tua boleh memukul? Gloria menyebutkan, sedang-sedang saja. Dalam arti, jangan sampai karena tidak tega, maka pukulan hanya pura-pura, hingga anak akhirnya menganggap sebagai angin lalu. Tapi juga tidak boleh terlalu keras, karena itu akan membawa dampak yang berbeda lagi.
“Sedang-sedang saja. Saya tahu bagaimana rasanya sakit dan tidak teganya hati kita saat harus memukul anak. Tapi lakukanlah dengan pukulan yang sedang, tidak terlalu pelan dan tidak boleh keras. Yang penting di sini, anak merasakan keseriusan.”
Dia kemudian memberi contoh apa yang dia terapkan pada anaknya semasa kecil (sekarang sudah kuliah di luar negeri). “Saya memiliki alat perantara berupa batang kemoceng yang sudah saya bersihkan dan saya tempel kertas bertuliskan nama anak saya. Baru-baru ini saya pindah rumah dan menemukan kemoceng tersebut. Saat saya berbincang lewat webcam dengan anak saya, saya tunjukkan benda itu dan saya bertanya, “masih ingat ini?”
Anak saya, tutur Gloria, menjawab, “Ingat. Itu tongkat disiplin saya. Karena itu pula saya bisa mencapai seperti sekarang. Karena tongkat itu pula, saya bisa memiliki disiplin dan kepribadian seperti sekarang. Terimakasih mama.”
Itu kira-kira hasil seminar di sekolah putri saya. Saya menceritakan tidak dengan maksud apa pun. Saya hanya ingin berbagi apa yang sudah saya peroleh. Hanya itu.
MESKI umurku sudah mengalir sampai berpuluh-puluh tahun, tapi kok rasanya masih jauh dari dewasa, waduuuh!
Cerita lainnya: Putri kecilku yang sekarang duduk di TKB ikut marching band. Tadinya dia bawa drum, tapi kemudian dipilih menjadi mayoret.
Senang? Saya belum tahu. Awalnya sih harus dirayu para guru. Cukup lama dia menolak, karena menurut dia, kalau jadi mayoret — sering dia salah sebut menjadi kabaret — tidak bermain musik.
“Aku gak mau mama, nanti aku gak mukul drum,” begitu katanya.
“Ya sudah, coba saja dulu, nanti kalau tidak asyik, bilang sama bu guru; aku gak mau, mau balik main drum,” saran saya.
Entah bagaimana anakku tiba-tiba mau menjadi mayoret. Bangganya, saat melihat dia memberi aba-aba dan memutar tongkat dalam pertunjukkan di sebuah kantor pemasaran perumahan.
Anakku sudah besar, dan saya jadi senyum-senyum sendiri.
Gurunya bilang, banyak yang meminta marching band TK tempat putri kecilku sekolah untuk pentas. Tapi belum bisa dipenuhi karena takut anak-anak kecapaian. Hanya saja, Desember nanti, mereka dijadwal akan tampil di mal.
Anakku sih cuek saja. Dia juga masa bodoh saat bercerita sambil lalu bahwa dia disuruh ikut lomba menyanyi di Porseni TK bulan depan.
Mamanya yang norak berat. Rasanya bangga dan takjub melihat si putri kecil sudah kian besar dan punya kegiatan sendiri. Tapi kadang pusing juga kalau nakalnya dia lagi kumat hi hi
Semarang-Solo senangnya…
Tidak tahu mengapa, sekarang saya lebih menghargai kesempatan bepergian.

